Singapore: Land of Opportunities?

This post is in bahasa because it is written to my fellow Indonesians🙂

Suatu siang saya ngobrol dengan visa officer dari Kedutaan Indonesia di Singapur, “Pak, sebenernya ada berapa orang Indo di Singapura?”

Bapaknya menjawab, “Tebak berapa.”

“…errrr….. 20.000 ???”

“150.000 orang. TKI ada 70.000 orang. Sisanya mahasiswa, WNI yang Singapore PR, dan yang kerja disini.”

150.000 orang … di negara yang cuma dihuni 4 juta jiwa ….. berarti hampir 5% populasi Singapur ‘tu exodus dari Indonesia … dan banyak diantara mereka adalah profesional muda yang pindah dari Indonesia supaya punya masa depan yang lebih baik, katanya.

‘Masa depan yang lebih baik’ ….. betulkah?

Biasanya, profesional dan keluarga muda Indonesia pindah ke Singapur karena alasan ini:

1. Memberi rasa aman dan pendidikan lebih baik untuk anak

2.  Menghindari macet di Jakarta

3. Gaji dan kesempatan berkarir yang lebih baik

Saya sudah tinggal di Singapur empat bulan lebih, dan ngobrol dengan cukup banyak profesional muda Indonesia maupun bos-bos yang hire orang Indonesia di Singapur. Dan kenyataaannya adalah ini:

1. Pendidikan berkualitas dan rasa aman untuk anak: rasa aman – ABSOLUTELY YES.  Kita nggak khawatir anak akan diculik, atau harus antar jemput anak karena transportasi umum sangat baik dan tingkat kriminalitas sangat rendah.

Pendidikan – bisa ya bisa tidak. Di satu sisi, prestasi akademik dan kurikulum Singapur memang diakui tokcer. Tapi di lain pihak, sekolah Singapur (sama seperti sekolah top di Indo) memberikan banyak PR sehingga anak harus les ini itu dan mengurangi waktu tidur mereka untuk bikin tugas sekolah. Koran The Straits Times menulis bahwa anak-anak Singapura tidak cukup tidur karena sibuk les dan bikin PR supaya bisa berprestasi di sekolah.

Dan kita harus mengingat bahwa seperti Indonesia, Singapura bukan negara yang mengedepankan “free thinking” apalagi “critical thinking“. Budaya Singapura adalah budaya text book, yang istilahnya – pintar menurut ukuran Singapura adalah keberhasilan mengikuti segala hal di buku manual dan keberhasilan lulus A level dan masuk universitas (bukan college atau technical institute). Mereka tidak membudayakan kreatifitas dan mengutarakan pendapat secara konstruktif.

Dari employer yang saya temui di Singapur beberapa tahun ini, mereka mengatakan bahwa pegawai Singapura tidak memiliki kemampuan problem-solving, keberanian mengambil resiko dan kreatifitas sebaik tenaga kerja dari negara lain (termasuk Indonesia), mungkin akibat sistem pendidikan dan budaya mereka yang terlalu rigid.

2. Menghindari macet dan polusi di Jakarta – YES untuk polusi, YES untuk macet. Anda pasti bisa menghindari macet di Jakarta, karena kemungkinan besar anda tidak akan punya mobil di Singapura! Kalau, seperti saya, anda nyetir, anda akan menyadari bahwa orang Singapura tidak bisa nyetir!!!! Mungkin ini akibat budaya mereka yang rigid dan one-way juga. Mereka tidak punya road courtesy. Jarang orang yang memberi jalan kepada anda untuk pindah lajur atau belok. Mereka sepertinya tidak pernah liat kaca spion. Dan walaupun tidak macet seperti Jakarta dan tidak ada Metro Mini ataupun bajaj, plus drink driving bukan masalah serius di Singapur, tiap hari selalu ada kecelakaan. Kenapa? Sederhana. Orang Singapur tidak bisa ngerem mendadak (jadi sering nabrak mobil depannya) atau liat kaca spion sebelum ambil lajur orang (jadi nabrak mobil sampingnya).
Suami saya bilang, “Hati-hati nyetir di Singapur. Bukan karena takut speed camera atau saya ragu dengan kemampuan kamu nyetir …. saya nggak percaya dengan kemampuan orang Singapur untuk menginjak rem atau melihat bahwa mobil kamu yang segede truk itu sedang lewat!”

Untuk negara yang mengharuskan pemilik SIM internasional untuk ujian nyetir lagi, dan ujian nyetirnya sangat sulit, fakta ini sangat mengecewakan sekaligus memalukan.

3. Gaji dan kesempatan berkarir yang lebih baik – Memang sih, untuk pekerjaan dengan gaji Rp3-5 juta di Jakarta, kita bisa dapet pekerjaan dengan gaji sekitar S$2,000 (Rp12 juta) di Singapura. Heboh khan, pendapatan naik 2-4 kali lipat? Tapi tunggu dulu. Harga sewa apartemen atau kamar di Singapur sedang heboh naik terus …. dengan gaji sekian, anda mau tidak mau harus tinggal di rumah susun di daerah yang jauh dari kota, di satu kamar yang mungkin ukurannya tidak lebih dari 3×3 meter. Seringkali tanpa furnitur, dan kalau mau lebih irit lagi, tanpa AC.

Kalau anda kerja di pusat kota, fakta diatas berarti anda harus naik transportasi umum selama hampir satu jam one-way untuk ke kantor, seringkali dengan berdiri dan berdesakan seperti di Jakarta.

Dari pengalaman teman-teman yang pernah kerja di Singapura dan Indonesia, mereka bilang bahwa walaupun gaji di Singapura lebih tinggi, mereka bisa menabung lebih banyak tiap bulannya ketika kerja di Indonesia.

Dan Singapura bukan tempat untuk coba-coba cari kerja. Sekali lagi, mereka rigid. Kalau anda tidak punya pendidikan yang relevan, plus pengalaman di industri atau bidang yang sama, anda tidak akan masuk hitungan. Tidak seperti kantor saya di Indo dulu yang walaupun usahanya di bidang public relations tapi mau hire orang yang sarjana perikanan, teologi, dsb. karena orang-orang ini punya track record atau network atau character yang sangat baik, jangan harap anda dapat kesempatan yang sama di Singapura.

Dan jangan harap untuk memiliki karir yang bisa naik cepat seperti di Indonesia. Di Indonesia, saya bisa dipromosi 2-3x dalam setahun, gaji bisa berlipat ganda dalam setahun untuk profesional muda yang beprestasi. Di Singapura, pasar tenaga kerja sudah lebih stabil dan kompetisi lebih intense. Anda harus siap untuk stuck di pekerjaan yang sama dengan gaji yang sama (atau naik sedikiiiitttt …..) selama bertahun-tahun.

Dan kalau anda melamar kerja yang pindah industri atau departemen, siap-siaplah untuk mulai dari awal lagi, bahkan masuk sekolah lagi untuk mengambil kualifikasi di bidang usaha / industri yang anda ingin masuki.

Masih tetap ingin ke Singapura, setelah baca artikel ini? Lihat artikel selanjutnya “Thriving in Singapore”😀

5 thoughts on “Singapore: Land of Opportunities?

  1. mmm…setelah baca artikel ini saya bisa berfikir dua kali, saat ini saya bekerja di singapore, baru 1 bln sih, ada rencana mau ajak keluarga stay di singapore.tapi setelah saya hitung2 kalo saya ajak keluarga ke singapore gaji saya dalam 1 bulan itu habis begitu saja so ga bisa saving, tapi di sisi lain ada ke untungan yang saya dapat, yaitu pengalaman.namun saya sudah memutaskan untuk balik ke indo saja karena beberapa alasan dan pertimbangan.

  2. Halo Mas Dedi – saat ini emang bukan the best time u/ kerja di Singapur. Mereka cukup terpukul dengan krisis finansial di Europe and US.

    Good luck with your career di Indo, and at least di Indo khan ga perlu merana karena kangen anak and istri🙂

  3. Saya dapat tawaran untuk kerja di perusahaan di singapur dengan gaji sekitar 5000. Kerjanya di daerah buona viest. apa masih bisa saving..pajaknya besar gak disana ya…
    makasih atas infonya

  4. $5000 bisa banget u/ saving, tapi tergantung masih single atau berkeluarga. Kalo masih single, mestinya bisa nyelengin separo gaji🙂

    Pajak pendapatan rendah, kalo ga salah mulai dari 8% trus progresif, naik sampe maksimum 15%. Gaji 5000 mestinya pajaknya ga lebih dari kisaran 10%.

    Tapi mesti diliat juga, tawaran $5000 itu u/ pekerjaan yang seperti apa. REquirement and kontrak kerjanya mesti detil dan jelas. Kalo diliat sekilas kalo diliat, $5000 keliatan cukup gede, tapi kadang2 kalo dibandingin ama tenaga2 lokal yang kerja di industri dan level yang sama, bisa jadi gaji mereka jauh lebih tinggi dari $5000🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s