Kamarku di ShangriLa Rasa Sentosa (bagian 2 dari 2)

Saat insiden check in (baca: Conversations with ShangriLa Rasa Sentosa Staff), saya sempat juga meminta kamar dengan king bed, tapi (kata petugasnya) kamar king bed sudah penuh semua, jadi mereka akan mengirimkan roomboy yang bisa menggabungkan 2 ranjang single.

Saat itu hari biasa, dan bukan liburan sekolah dimanapun. Saya dan suami pernah kerja di hotel, dan kami tahu pasti family resort selama hari biasa jarang sekali penuh. Tapi saya sudah malas berdebat dengan receptionist yang selalu salah baca, salah omong, dan salah informasi itu. Saya setuju saja dengan tawaran untuk menggabungkan 2 single bed.

Saya masuk kamar, dan terkaget-kaget dengan kondisi kamar yang lebih kelihatan seperti asrama! Lantainya ubin (bukan karpet, bukan marmer). Furnitur-nya sudah tua, kayunya sudah coak disana sini. Wastafelnya sudah retak. Channel TV Kabelnya sangat terbatas … nggak ada Starworld pula!!! Padahal saya check in dengan harapan bisa melihat American Idol yang sudah mendekati final ….

1 jam lebih, roomboy yang dijanjikan receptionist tidak juga datang. Kami lapar. Jadi saya dan suami pergi sekali lagi ke receptionist, pertama karena suami harus mengisi formulir check in, dan kedua untuk sekali lagi meminta supaya ranjangnya digabungkan. Lalu kami makan malam.

2 jam kemudian saya kembali ke hotel, dan ranjangnya belum juga digabungkan!!! Tiga jam lebih!!! Dengan emosi saya menelepon guest service dan minta ranjang digabungkan saat itu juga. Seorang roomboy tergopoh-gopoh datang dan minta maaf. Setelah memeriksa kondisi kedua ranjang, roomboy ini berkata, “Sorry Ma’am. These two beds cannot be combined because all the cablings are situated in the bedside table between the two beds. This bedside table cannot be moved.”

… saya dalam hati mulai menyumpahi receptionist yang janji-janji angin surga ….

“But the hotel is not full Ma’am. You should be able to move into a king room.”

Saya mulai menyembunyikan cengiran kemenangan saya, tapi tetap pasang tampang agak-agak memelas dan bilang, “But I did ask the receptionist several times for a king room, the guy said all king rooms are full…”

Roomboy itu bilang, “Am fairly sure we can give you a king room. Let me call them now.”

Dia menghubungi receptionist dari kamar saya, dan langsung dapat jawaban bahwa ada kamar king yang kosong dan saya akan segera dipindahkan.

Total jendral, sampai saya mendarat di kamar baru, saya “merepotkan” 1 receptionist, 3 operator, 1 supervisor front office, 2 roomboy dan 1 bellboy yang harus mengurus kepindahan saya dari 1 kamar ke kamar lain, termasuk membersihkan kamar yang lama dan mengangkat bagasi saya ke kamar baru.

Inti dari tulisan saya ini … kalau sebenernya kamarnya ada dan kosong, kenapa pula receptionist ini harus membuat saya kesal plus banyak orang repot hanya karena satu orang malas ngecek status reservasi kamar?

Setelah kejadian yang menimpa saya saat check in dan pindah kamar itu, saya sama sekali tidak menikmati hotel ini. Apapun yang staf lakukan, saya sudah kadung ill-feel, dan memutuskan bahwa saya tidak akan pernah kembali ke hotel itu.

Makin niat untuk tidak pernah menginjak hotel itu lagi setelah tahu bahwa kamar standar kami, yang berlantai ubin, berfurnitur bekas, catnya mulai ngelotok, menghadap ke lapangan parkir, dan tidak memberikan aqua gratis, ternyata berharga S$286 (Rp 2 juta) per malam, untuk hari biasa!!!!

Harga ShangriLa, tapi servis dan hotelnya tidak secuilpun mencerminkan kelasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s