Ngajarin Anak Makan Sayur

Punya anak yang ga mau makan sayur apapun? Sama dong :-)  Anak tiri saya baru mulai belajar makan sayur setelah tinggal bersama saya dan suami (sebelumnya tinggal bersama mamanya), dan ternyata mamanya tidak mengharuskan makan sayur. Anak saya baru belajar makan sayur ketika umurnya 10 tahun, yang sebenarnya sudah sangat terlambat. Dia sudah kadung jadi picky eater yang sama sekali ga mau makan sayur, dan selalu bilang “nggak mau” kalau disuru coba makanan yang dia belum pernah coba sebelumnya.

Tapi itu setahun yang lalu. Kombinasi trik-trik dibawah sudah merubah dia dari picky eater menjadi lebih fleksibel. Dan yang lebih penting, dia tidak sekedar mau makan sayur karena terpaksa, tapi dia menjadi penyuka beberapa jenis sayur, dan mau coba makan sayur (dan makanan lainnya) yang dia belum pernah coba.

  1. Kalau anak anda masih bayi / dibawah tiga tahun, mulai kenalkan mereka pada sayur segera setelah mereka bisa makan makanan padat. Jangan tunggu sampai anak anda SD, misalnya, karena pada umur itu mereka sudah bisa jadi pemilih (karena temannya tidak suka wortel, mereka juga tidak mau makan wortel).  Sementara anak kecil (bawah tiga tahun) biasanya senang warna dan tekstur makanan yang berbeda, karena itu biasakan mereka untuk makan di meja makan bersama anda, dan sediakan makanan yang bergizi cukup (ada sayur, ada lauknya) dengan warna-warna yang berbeda. Gunakan kombinasi bahan-bahan yang berwarna cerah seperti wortel, jamur, brokoli, tomat untuk menarik minat mereka terhadap sayur. Trik ini tidak saya coba karena saya dapet anak langsung gede, tapi banyak ahli gizi dan parenting merekomendasikan cara ini.
  2. Mereka hanya akan makan sayur yang anda makan. Jangan harap anak anda akan doyan timun kalau anda sendiri nggak doyan timun.
  3. Buat anak anda melihat dan mendengar anda ketika makan sayur. Ketika anda makan sayur yang anda suka, usahakan untuk “think out loud” – ucapkan komentar2 positif tentang sayur yang anda makan, misalnya, “Waduh, ternyata kangkung dimasak pake ____ enak juga!” atau “Wortelnya kalo dipotong kecil2 seperti ini nggak keliatan seperti sayur!”. Dengan cara ini, anda membuat anak anda curious tentang rasa sayur yang anda makan.
  4. Ketika anda belanja, biarkan anak anda memilih sendiri sayur yang mereka ingin makan. Anak tiri saya pada awalnya tidak suka semua sayur. Tapi sejak tinggal bersama saya dan suami (sebelumnya, dia tinggal bersama mama-nya), dia boleh (baca: harus🙂 ) memilih 3-5 jenis sayur yang dia mau makan di rumah. Karena sudah diberi pilihan mau makan sayur apa, dia tidak punya pilihan lain selain mencoba / makan sayur tersebut ketika sudah di rumah. Awalnya dia cuma mau makan wortel dan brokoli, 1 potong. Lama-lama dia bosen sendiri makan wortel dan brokoli tiap hari, dan akhirnya mau coba bayam, kangkung, seledri, daun kemangi dan beberapa lainnya.
  5. Gunakan positive reinforcement. Pada awalnya, kami pakai sistem reward, “Kalau kamu habiskan sayur waktu makan malam, kamu dapat es krim.” Ada yang bilang bahwa anak jangan “disogok” supaya mau makan sayur, karena dia secara psikologis akan berpikir “no pain no gain”, alias … sayur ‘tu nggak enak, tapi karena saya ingin dapat ____, saya harus makan walopun ga enak. Tapi di kasus kami, awalnya dia nggak seneng sayur tapi mau makan karena terpaksa (karena ingin es krim), tapi lama-lama dia mau tetep makan sayur walaupun reward es krim-nya sudah tidak kami sediakan.
  6. Orangtua harus konsisten menerapkan aturan makan sayur. Di keluarga kami, tiap makan malam harus ada karbohidrat, sayur dan lauk. Dan porsinya sudah ditakar sesuai usia masing-masing. Jadi, istilahnya, kalau dia tidak mau makan sayurnya, dia tidak akan dapat tambahan nasi / lauk untuk mengisi piringnya yang tidak penuh. Dan kami sebagai orang tua tidak akan bersukarela makan sayur mereka yang tidak mereka makan. Jadi, istilahnya, kalo mereka nggak makan sayur, kita akan bilang sama mereka bahwa Pak Tani usahanya u/ menanam dan panen sayur terbuang sia2 karena dia tidak mau makan, padahal sekarang sedang ada krisis pangan dimana-mana dan banyak orang kelaparan. Maksudnya supaya dia merasa bersalah dan akhirnya mau menghabiskan sayurnya.
  7. Biarkan anak anda memilih bahan makanan yang bisa ditambahkan di sayurnya. Misalnya, anak saya bisa memilih apakah dia mau makan kangkungnya dengan daging ayam, sosis, bakso atau daging sapi. Ketika dia melihat bahwa makanan pilihannya sendiri dicampurkan dengan sayur, kita bisa mengalihkan perhatian mereka dari sayur yang “huek ….” jadi menu makanan yang dia pilih sendiri.
  8. Kalau semua cara ini masih gagal, coba potong sayur anda sekecil mungkin, lalu selipkan mereka di nasi goreng, omelette, sup atau makanan lainnya. Dengan cara ini, anak anda tidak melihat segepok sayur, tapi melihat hidangannya as a whole. Misalnya, kalau saya bikin indomie, saya taburi seledri dan bawang goreng. Kalau saya bikin nasi goreng, saya tambahkan wortel yang dipotong kecil2 (kecil banget, sekecil rajangan bawang merah). Kalau saya bikin omelet atau pangsit, bagian dalamnya saya selipkan seledri atau kucai. Kalau bikin pasta, saya selipkan bayam yang sudah dipatahin jadi kurus-kurus.
  9. Buat sayuran ini sekecil mungkin sehingga anak anda akan kesulitan untuk memisahkan mereka dari makanan intinya. Kalau gara-gara secuil sayur ini anak anda jadi tidak mau makan sama sekali, biarkan saja. Jangan lari ke telor dadar atau chicken nugget dadakan supaya anak anda pokoknya makan. Anak anda tidak akan mati kelaparan karena tidak makan malam 1x🙂 Lagipula, tidak memberikan mereka makanan pengganti ketika mereka tidak mau makan malam adalah latihan disiplin dan self control yang baik karena kita mengajari bahwa life is not always about what you want, but what’s good for you.

Selamat mencoba🙂

One thought on “Ngajarin Anak Makan Sayur

  1. Hai salam kenal….
    Kebetulan Gungde anak saya sudah vegetarian sejak dalam kandungan, jadi sampai sekarang ga susah maem sayur, udah bawaan orok kali ya hehehe…. trims ya tips nya, ntr saya bagi2 ke ibu2 yg anaknya susah makan sayur.

    Mitha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s