Belajar Inggris di Singapur? Hmmm ….

Sewaktu masih jadi education consultant, saya banyak ditanyai orang tua yang berniat mengirim anaknya untuk belajar bahasa inggris di Singapura. Pikirnya … lebih murah, lebih deket, dan toh sehari-hari warganya berbahasa inggris.

Selama belajar di Australia, saya memang punya beberapa teman dari Singapura, dan bahasa Inggris mereka lumayan tokcer. Jadi saya pikir sah-sah aja kalau orang tua mau mengirim anaknya belajar Inggris di Singapur. Memang sedikit lebih murah daripada mengirim anaknya ke negara lain.

I wish I had known better back then.

Sekarang, setelah tinggal di Singapur hampir 2 tahun, saya mulai tobat dengan bahasa Inggris mereka, dan berkesimpulan bahwa Singapur bukan tempat untuk belajar Inggris. Mengapa?

Pertama, sampai sekarang, baik saya maupun suami saya yang orang Amerika, masih sering gak mudeng bahasa inggris Singapur. Padahal baik suami maupun saya terbiasa mendengar berbagai logat Amerika (dari logat white Texan sampe black American), British, Indian, Australian. Jadi kesimpulan saya … kalau ortu mengirim anak belajar bahasa Inggris ke Singapur, Inggris mereka nantinya adalah bahasa Inggris yang sulit dipahami oleh true English native speakers. Lah, trus manfaatnya apa dong, kalo native speakers aja ga mudeng?

Kedua, guru-guru Singapur yang berbahasa Inggris pun Inggrisnya ngaco. Suami saya sudah berkunjung ke lebih dari 100 sekolah di Singapur, dan bahasa Inggris gurunya aja ga beres secara grammar, aksentuasi, dan penggunaan vocabulary . Pokoknya mereka bicara bahasa inggris dengan grammar mandarin. Kalo gurunya (baik di private school maupun public school) udah ngaco, gimana muridnya?

Ketiga, kalaupun kita belajar “proper English“, kita nggak bisa mempraktekkan bahasa yang baik dan benar ini di jalan2 Singapura. Supir taksi, pelayan restoran, bank teller, penjaga toko, dsb. tidak menggunakan bahasa inggris yang baik dan benar. Misalnya saja, kejadian yang sering saya alami ketika naik taksi:

Saya: Excuse me, what is on your today’s special?

Waiter: haaaa?? (catatan: kalo mereka ga ngerti kita ngomong apa, ga pernah bilang “sorry?”, “pardon?” atau “excuse me?”. Selalu “haaaa?” doang

Saya: It’s my first visit here. What is good from your menu?

Waiter: Order ar??? Let me see…. Errrr …. mushroom soup, grilled fish and lamb rack we don’t have (persis dengan grammar mandarin: mushroom soup, grilled fish, lamb rack, 都 没 有). –> Bandingkan dengan versi inggris yang semestinya: “Today we don’t have mushroom soup, grilled fish and lamb rack.”

Saya: what about fish and chips?

Waiter: sorry, today also don’t have ar. (sekali lagi, persis grammar mandarin: 对 不 起 ,今 天 也 没 有)。Bandingkan dengan grammar Inggris yang semestinya: I’m sorry, we’ve run out of fish and chips for today as well).

Something like that …. bahasa Inggris seperti ini lah yang anak-anak kita akan pelajari dan gunakan bila mereka belajar Inggris di Singapur. Teman-teman saya yang native speakers di Singapur pun mengeluh bahwa mereka mau tidak mau harus “belajar” menggunakan bahasa Inggris yang ngaco kalau ingin belanja, naik taksi atau tanya-tanya, karena orang Singapur sama emang udah asli gak mudeng bahasa Inggris yang sewajarnya ‘tu seperti apa.

Kalau saya sih, mending saya suruh les di Indonesia aja, cari sekolah Inggris paling bagus yang gurunya native speaker. Kalau anaknya serius, setelah les beberapa lama boleh juga dikirim ikut program homestay di negara berbahasa Inggris selama sebulan. Semahal-mahalnya, masih akan lebih murah dari sekolah di Singapur plus membayar biaya hidup di Singapur yang paling tidak 4x Jakarta🙂

Untuk melihat contoh-contoh bahasa Inggris Singapur yang ditulis oleh kalangan yang “lebih terpelajar”, lihat https://elinski.wordpress.com/2009/01/09/ini-dia-bahasa-inggris-singapur-yang-terpelajar/

14 thoughts on “Belajar Inggris di Singapur? Hmmm ….

  1. halo salam kenal ya.
    saya setuju dengan isi tulisan ini.
    lebih dari 5 tahun tinggal di spore, saya paham singlish itu memang mengikuti grammar nya bahasa mandarin🙂

  2. setuuju, singlish emang payahh..klo saya bilang malah ngerusak gaya speaking kita, karna kita jd ikut2an..apalagi hari-hari pertama saya disini, bener2 strugle untuk komunikasi ama mereka ey!mereka ngomong bener2 super fast!!ck ck ck…makanya sebisa mungkin saya gak mau niru singlish mereka…
    ada juga sih temen2 gereja yang masih muda2, apalagi klo yang kuliah sosial gitu udah ok lah, kalo saya bilang speaking mereka bagus, tapi hebatnya lagi mereka juga bisa dengan gampangnya switch ke singlish mode..

    jadi yah smntara ksimpulan, yg generasi mudanya, ya lebih bagus englishnya..(harusnya)

  3. Heyy,,trimakasih info nya sangat membantu,,saya mau cari homestay dijakarta yg keluarganya org2 bule..ada gak ya yang tau dimana?dan skitar brapa biayanya?

  4. Hi, saya pikir apa yang di tulis diatas tidak semuanya benar, saya juga sering mendengar anak2 sekolah di Singapore yang memakai aksen Amerika yang bagus waktu saya sedang di MRT. Kita tidak bisa samakan antara bahasa inggris supir taksi atau pramuniaga toko dengan pelajar Singapore, saya pernah juga berbicara dengan pegawai yang mau berangkat kerja dia orang India Singapore dan Inggris dia bagus sekali jadi tergantung dengan siapa kita bicara selama di sana. Saya juga pernah ikut program homestay sebenarnya kita sendiri yang membuat kita bisa bahasa Inggris kalo kita sudah punya basic Inggris yang baik dari Indonesia. Traveling atau homestay hanya sebagai tempat untuk lebih memperlancar bahasa inggris kita !!! itu pendapat saya lho !!!

    1. @ Sesy: I have to disagree with you. Bahasa pelajar Singapore, in majority of cases, tidak ada bedanya dengan bahasa inggris supir taksi atau auntie2 yang jualan di toko. Kalau anda mendengarkan banyak pelajar bertampang Chinese/India naik MRT berbicara bahasa Inggris dengan aksen Amerika, kemungkinan karena mereka adalah murid2 sekolah internasional yang baru bubaran. Mereka bukan orang Singapur🙂. Kalau anda specify di MRT daerah mana anda melihat anak2 ini (dan warna seragam mereka), saya malah bisa tebak mereka murid sekolah internasional yang mana🙂 Having said that, saya setuju dengan Anda bahwa kemampuan berbahasa tergantung dari kemauan anda sendiri. Kebanyakan orang Indonesia yang sekolah / pernah tinggal di luar negeri pun bahasa inggrisnya tetap medok atau jelek, tapi ada beberapa (jumlahnya minoritas nih!) yang berhasil menghilangkan logat Indo-nya dan bisa menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris seperti bahasa ibunya sendiri.

  5. I hate Singlish. I lived in Singapore for more than 5 yrs. My first 6 months of my employment there, I was struggling to understand my colleagues’ English. Singlish will corrupt good standart English. Indonesian government only allows people from English standart countries such as UK, America, Canada,Australia and New Zealand to teach English in Indonesia.

    1. @ Kent: I think “hate” is too strong a word. English in every country comes with its own quirks, even native-speaking countries of English. Try moving to New Zealand and understand their English. I bet you struggle in your first 6 months like you did in Singapore. I’m just saying here that if you (or Indonesians for that matter) want to really learn English, Singapore is not the place for it.

  6. i agree with u , soalnya dosen juga bilang gitu klo orng singapore ngomongnya pake grammarnya mandarin ,, sy punya temen juga sama pekerja di singapore gt lulus sma dan hasilnya ngomongnya ga ad grammernya tp dia menyusun vocab , ya aku si ngerti mksutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s