Ngajarin fokus dan prioritas, duh susahnya ….

Kalau anda punya anak delapan tahun keatas, mungkin anda punya pengalaman yang sama dengan saya. Anak mulai banyak PR (dan les tambahan) tapi mereka nggak fokus pada tugas-tugasnya. Maunya main game, tidur, baca komik, main ke rumah temennya. Kadang-kadang lupa bikin PR, lupa kalo besok ada ulangan, lupa bawa buku, baju olahraganya ketinggalan, botol minumnya hilang, salah pake seragam, and so on and so forth ….🙂

Anak saya sebentar lagi 12 tahun, dan semua gurunya memberi masukan bahwa anak ini pintar dan kreatif, tapi tidak fokus pada tugasnya, makanya nilainya suka naik turun. Kalo pas inget dan niat, nilainya selalu bagus (antara B+ sampe A+, jagoan deh!) tapi kadang-kadang lupa ini itu, bacanya ga teliti, PR-nya ga kelar, nilai PR atau ulangannya jeblok jadi D atau F.

Kalo cuma satu guru yang komplain begitu, wajar lah … mungkin kebetulan dia ga cocok ama gurunya, atau emang ga seneng pelajarannya. Tapi kalo banyak guru punya concern yang sama, berarti ini khan sudah behavioral atau attitude problem, bukan sekedar like or dislike terhadap guru atau pelajaran tertentu.

Mulai lah saya dan suami putar otak, dateng2 seminar, tanya2 ortu lain, cari tahu gimana cara melatih anak untuk fokus dan bagaimana memotivasi dia. Kami coba berbagai cara … beberapa percobaan kami di tiga-empat bulan pertama bisa dibilang ga sukses, tapi setelah kami mengubah taktik, sekarang dia jadi jauh lebih bertanggung jawab dan fokus.

Enam bulan terakhir, praise the Lord, dia menunjukkan bahwa dia bisa fokus, mengatur prioritas, dan dia jadi lebih self-motivated untuk punya nilai bagus dan jadi juara kelas. Karena sudah sukses praktek ke anak sendiri, pikir2 boleh juga sharing disini, kali2 ada orang lain yang bisa mengambil manfaatnya (amin!)

1. Buat aturan main di awal semester / caturwulan. Kami berdiskusi dengan anak kapan dia boleh main komputer, kapan dia harus tidur, dsb. Misalnya, kami sepakat bahwa:

  • Weekday dia ga boleh main game, kecuali mommy daddy-nya dua-dua tidak di rumah dan dia nganggur sesudah bikin PR, belajar u/ ulangan, latihan gitar dan latihan trombone.
  • Weekend dia boleh main game, atau main ke rumah temannya (termasuk menginap)

Dengan aturan yang jelas seperti ini – kalau perlu, ditulis lalu dipajang di kamarnya supaya dia ga lupa, kalau dia melanggar (misalnya, ketika mommy daddynya pergi dia langsung main komputer 3 jam tapi lupa bikin PR), kita nggak perlu marah2 atau teriak2. Tinggal bilang, “Kamu khan tahu kalo kamu mestinya ga main game sebelum PR kelar. Sekarang aturannya kamu langgar. Enaknya hukumannya apa?” …..   Atau … “Sekali lagi kamu langgar, koneksi internet akan kita matikan tiap kali mommy daddy pergi.”

Setelah kita pake sistem “bikin aturan main di awal”, berangsur-angsur anak kami ingat urutan prioritasnya: PR – ulangan – latihan musik …. baru main2🙂

2. Beri reward untuk usahanya dan perilakunya, bukan nilai akhir. Waktu awal tahun ajaran (Agustus 2008), kami mengiming-imingi anak dengan iPhone (bekas bapaknya … but still, iPhone is an iPhone!) kalau dia dapat lima nilai A di rapornya. Tapi dia malah jadi stress, kadang2 kalau dapet nilai jelek trus dia nangis pula karena merasa udah ga bisa ngejar nilai rata-rata A. Dan akhirnya, di quarter 1 dan 2, dia ga pernah dapet 5 nilai A … paling banter 3 doang. Dan feedback dari guru-gurunya tetap sama: ‘ni anak masih punya masalah dengan fokus.

Akhirnya, setelah tanya sana sini, kami rubah approach-nya: dia akan dapat iPhone kalau dia put his best efforts di tugas-tugas sekolahnya (tidak lupa bikin PR, tidak lupa persiapan untuk ulangan, tidak lupa grammar and spelling check), dan feedback dari guru-gurunya membaik. Lupakan 5 nilai A … asalkan dia menunjukkan effort dan attitude yang baik selama 1 quarter (tiga bulan), iPhone akan jadi miliknya. Tiap hari Minggu, kami duduk bersama untuk memberi dia nilai effort dan attitude mingguan (antara 1-5 poin). Dia harus mencapai rata-rata 4 poin tiap minggunya untuk bisa dapat iPhone.

Setelah menjalankan sistem ini selama 10 minggu (dia 2 minggu lagi terima rapor), feedback dari guru-gurunya membaik. Dia lebih independen, kreatif dan teliti dalam mengerjakan tugas-tugasnya, karena dia tahu bahwa kami menilai usahanya, bukan hasilnya. Dia tidak stres karena dia tahu selama dia menunjukkan usaha yang keras untuk menyelesaikan tugas dan belajar, dia tidak akan di-penalti kalaupun nilainya ga bagus2 amat.

Ga cuma lebih fokus dan bisa mengatur prioritas, tapi nilainya pun jadi agak2 ajaib:  nilai Science-nya naik dari 86 jadi 99 (sim salabim!!!), nilai bahasa asing (Spanish) naik dari 82 jadi 93, bahkan nilai bahasa dan sastra Inggris yang jadi momok bagi dia pun naik dari 80 jadi 87. Target lima nilai A di akhir quarter, yang dulu jadi momok buat dia, tiba-tiba tercapai tanpa dia merasa dipaksa-paksa belajar. Di akhir proses ini, dia akhirnya sadar bahwa kalau he puts his mind into something, no one can stop him from being the best🙂

3. Beri reward kecil2an secara berkala. Namanya anak, kadang2 masih sulit fokus pada target jangka panjang. Nah, selain sering2 mengingatkan mereka akan reward jangka panjang dan aturan mainnya, kami suka memberi anak reward untuk prestasi spesial yang dia dapat. Misalnya … ketika dia dapat nilai A untuk buku kumpulan puisinya, dia kami bawa ke Ben & Jerry’s (kami jarang beli es krim dan cemilan2 manis, jadi es krim ‘tu traktiran spesial bhuanget!). Ketika dia menyelesaikan semua PR-nya dengan cepat tapi teliti, kadang2 kami bilang, “OK, kamu boleh main game 1 jam” walaupun itu hari biasa.

Anak kami tidak pernah kami iming2-i reward kecil di muka. Kami tidak pernah bilang, “Kalau ulangan ini kamu dapat A, kamu dapat es krim” (ntar stres lagi dah!).  Kami impulse aja. Dan kadang2 reward-nya cuma, “Congratulations! Besok kamu boleh bangun lebih siang, daddy akan anter kamu ke sekolah!” (dia biasanya naik MRT). Tapi dengan hal-hal kecil ini dia jadi excited, kadang2 belon sampe rumah dia udah ribut telpon2 saya atau bapaknya … laporan di sekolah ngapain aja.

4. Dampingi anak ketika belajar. Kadang2, dosa kita sebagai orangtua adalah mengharap dari anak sesuatu yang kita sendiri ga bersedia / ga bisa lakukan. Jadi sepertinya balas dendam gitu  … dulu aku ga juara kelas, tapi anakku harus bisa! Saya dan suami berkomitmen untuk, kalau perlu, ikutan baca buku teks anak supaya kalau dia nggak ngerti, kita bisa bantu jelaskan. Kami tidak malu untuk tanya guru atau konselornya kalau kami mulai bingung bagaimana cara ngajarin sesuatu ke anak. Kami berkomitmen untuk mengajari anak bagaimana cara belajar yang cepat dan efektif, ga sekedar menyuruh dia duduk 2 jam menghapal sampai jereng tapi sebenernya kita sendiri ga tau cara belajar yang efektif. Kami berkomitmen untuk jadi pendengar yang baik ketika dia ngalor ngidul cerita tentang teman-teman dan guru2nya di sekolah, apa yang dia suka / tidak suka, dsb … selain supaya kami lebih tahu minat, bakatnya, juga supaya anak kami tahu bahwa his opinion matters. Selain itu, kami berjanji untuk tidak “mengarahkan” dia untuk membuat tugasnya sesuai ide kami (walaupun mungkin cara kami lebih keren dan cepat) –> PR-nya harus benar2 hasil karya dan pemikirannya supaya dia terlatih untuk independen dan memecahkan masalah, dan kalau nilainya bagus dia bisa bangga akan hasilnya🙂

Setelah beberapa bulan terbingung-bingung bagaimana caranya supaya ‘ni anak ngerti yang namanya fokus dan prioritas, puji Tuhan sekarang kami mulai melihat hasil dari upaya kami selama sembilan bulan terakhir. Ga cuma prestasi, attitude dan focus-nya membaik, tapi rumah kami pun jadi tempat yang lebih damai. Jarang banget ada teriakan2, “Banyak spelling mistakes niiiiy!!!! Benerin cepetan!!!!”  atau “Whaaat????? Ulangan cuma dapet D???? Melamun kemana aja kamu waktu belajar kemaren????”, anak kami merasa orangtuanya lebih adil karena sekarang aturan mainnya jelas, dan dia jadi lebih open sama orang tuanya, sudah nggak pake ngumpet2in nilai2nya, baik atau buruk (walopun sekarang udah nyaris ga pernah ada buruknya ….).

Untuk teman-teman yang masih mencoba berbagai formula untuk ngajarin fokus dan prioritas ke anak, mungkin hal-hal ini bisa dicoba. Good luck!

6 thoughts on “Ngajarin fokus dan prioritas, duh susahnya ….

  1. bagus juga bisa diterapkan ke anak yang bandel ga yaaaa.anak saya rasanya tidak punya rasa takut lho.bgmn sya juga bingung oi

  2. hi diana – mau anak bandel atau nurut, prinsipnya sama: jelaskan aturan main di depan, dan konsekuensi kalo melanggar / mengikuti aturan tersebut. Pastikan bahwa hukumannya / reward-nya tepat.

    Jadi, misalnya, di kasus anak saya, hukuman ‘tu biasanya potong jam main komputer atau kami matikan wireless internet connection-nya, karena dia cinta banget main online game. Jadi dia akan mikir beribu kali sebelum do something bad, karena dia ga mau kehilangan computer time-nya.

    Kalo reward, biasanya dalam bentuk es krim, dianter ke sekolah, atau hal2 kecil lain yang get him excited.

    Kunci menghadapi anak yang ga punya rasa takut adalah (1) menekankan lewat action dan kata2 kita bahwa kita sebagai orang tua tidak “takut” sama mereka (saya kadang2 melihat issue dimana orang tua enggan mendisiplin anak, dan guru “takut” sama anak yang terlalu bermasalah atau terlalu pintar …). (2) tunjukkan bahwa kita sbg orang tua tidak akan kehabisan akal. Kalau aturan main dijelaskan dari depan, mau anak alasan seperti apapun, kuncinya tetap sama: dia patuh atau tidak pada aturan, dan apa konsekuensinya. Kita nggak perlu teriak2, marah2 …. tinggal tentukan konsekuensinya kalau anak menaati / tidak memenuhi ketentuan.

    Hopefully berguna ya … let me know how it goes🙂

  3. elinski ..anak saya persis sekali seperti anak kamu , tapi karena dia masih berumur 6 tahun gurunya bilang konsentrasinya rendah tapi setelah baca tulisan kamu saya merasa anak saya memperioritaskan bermain dan menonton TV karena kalau saya tanya kenapa dia gak menyelesaikan tugas yg disuruh gurunya disekolah jawabannya karena aku sedang mikirkan mainanku….
    Thanks sharingnya.

  4. Halo Yuyun, prinsipnya u/ anak 6 atau 12 tahun sama, tapi cara menjelaskan aja yang berbeda karena mindset anak 6 tahun tentu-nya berbeda dengan 12 tahun. Good luck ya🙂

  5. Thank you sharing nya..very inspiring🙂 mau tanya, kalau utk penilaian utk attitude and effort nya yg dilakukan tiap minggu (point nomor 2) apa yg menjadi kriteria nya utk menentukan 1-5 utk nilainya? Kalau misalnya attitude n effort sdh maksimal, tp hsl belum maksimal. Is there any solution for this particular matter? Hhehehe..Thank you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s