Ketika Kualitas Guru Dinilai Hanya Dari Kemampuan Berbahasa Inggris

Di Jakarta, 10 tahun terakhir ini saya melihat trend sekolah-sekolah swasta ingin meng-upgrade dirinya menjadi bilingual atau bahkan all-english school. Malah ada yang trilingual – inggris indonesia mandarin. Tapi karena awalnya mereka adalah sekolah swasta berkurikulum nasional, akhirnya cukup banyak dari mereka yang “buka cabang” – bikin sister organization yang benar-benar fokus di kurikulum nasional plus dengan bahasa pengantar Inggris.

Apakah trend ini salah? Tidak. Competitiveness Indonesia di level dunia, baik dari sisi pendidikan maupun iklim investasi, salah satunya bergantung pada kemampuan tenaga kerjanya berbahasa Inggris. Jadi tidak ada salahnya bila sekolah2 makin menekankan pentingnya berbahasa inggris.

Tapi trend ini membawa beberapa efek yang baru sekarang saya sadari. Pertama, sekolah-sekolah swasta jadi sibuk merekrut guru-guru yang syarat pertamanya adalah: BISA BERBAHASA INGGRIS. Pengalaman mengajar, leadership quality, kecintaan pada anak-anak dan latar belakang pendidikan yang sesuai, kok sepertinya hanya jadi syarat kedua. Dan karena mungkin guru-guru yang terekrut ini tidak sepenuhnya memiliki panggilan untuk mengajar, mereka menganggap pekerjaan ini hanya sebagai “pekerjaan”, atau lebih buruk lagi, “batu loncatan” sebelum direkrut oleh perusahaan multinasional yang lebih mentereng gaji dan gengsinya. Akibatnya, turnover guru tinggi – tiap tahun atau dua tahun cari guru baru lagi karena guru2nya kutu loncat.

Kedua, guru-guru yang sebenarnya pandai, berpengalaman dan berdedikasi tinggi terancam eksistensinya hanya karena mereka tidak / kurang bisa berbahasa inggris. u/ saat ini, mungkin efeknya adalah: gaji mereka sedikit lebih rendah dari guru2 yang bisa berbahasa inggris. Tapi nantinya, pelan-pelan tapi pasti, ketidakbisaan mereka berbahasa inggris membuat mereka kelihatan tua, ketinggalan zaman, atau -lebih parah lagi- bodoh. Dan pada akhirnya, posisi mereka akan tergeser oleh tenaga2 guru baru yang inggrisnya tokcer

Kemudian akan ada orang-orang yang berkata, “Ya … dunia berubah, situasi berubah, guru2 ini harus juga meng-upgrade dirinya kalau tidak mau tergeser.” Dan in a way saya setuju dengan hal ini. Tapi kalau melihat kondisi mereka … yang bekerja dari jam 7 pagi sampai 4 sore, lalu seringkali masih memberi les privat atau grup ke anak2 sekolah lain karena gajinya nggak cukup u/ support istri + 3 anak, lalu begitu pulang sudah jam makan malam dan setelah itu anak-anaknya demand some attention dari mama / papanya yang pergi seharian …. kapan belajar bahasa inggrisnya dong? Khan capeeee …..

Saya juga dulu bekerja kadang2 10 jam-an sehari, dan habis 2 jam di jalan setiap hari u/ pergi pulang kantor. Saya merasakan sendiri, begitu pulang rumah ‘tu cape, maunya istirahat. Saat itu saya masih single, belum punya tanggung jawab keluarga. Bayangkan guru2 ini, yang setelah pulang masih direcoki soal PR anak, bayar tagihan, keran air rusak, harus diskusi ini itu dengan suami/istri, dengarkan cerita anak, dllsb.

Trus, gimana dong? Masa mereka harus cuti setahun untuk khusus belajar bahasa inggris? Trus yang bikin dapur rumah ngepul selama setahun itu siapa? Tapi kalau nggak belajar bahasa inggris, lama2 tapi pasti mereka akan kehilangan pekerjaan atau kehormatan mereka sebagai seseorang yang dianggap “terpelajar dan pintar”.

Setelah mikir berhari-hari, rasanya saya punya solusi. Ketika guru2 ini mengajar di sekolah, tentunya mereka tidak terus2an mengajar dari jam 7-4 sore. Ada waktu dimana mereka duduk di kantor u/ istirahat, ngecek PR atau diskusi dengan guru2 lain. Sebenernya, kalau mau, sekolah bisa berinvestasi sedikit saja u/ mendatangkan guru bahasa inggris u/ melatih mereka.

Jadi, misalnya, guru2 yang minat bisa daftar untuk ikut kelas bahasa inggris 2x seminggu, masing2 satu jam saja, dimana mereka diajari bahasa inggris yang mereka akan sering gunakan di kelas dan di percakapan sehari-hari.

Akan butuh waktu beberapa tahun sebelum mereka akhirnya cukup nyaman untuk menggunakan bahasa inggris di kelas, tapi setidaknya kita (sebagai orang tua) dan sekolah (sebagai employer mereka) tidak melupakan dedikasi mereka selama bertahun-tahun, dan memberi mereka kesempatan u/ meng-upgrade skills mereka tanpa harus mengorbankan waktu mereka dengan keluarga yang cuma sedikit itu.

Resources-nya bisa macam2: bisa minta guru bahasa inggris sekolah tersebut untuk mengajari guru2 lainnya dengan memberikan mereka allowance tambahan (misalnya: Mama saya mengajar dosen2 Untar lainnya berbahasa inggris). Bisa minta bantuan sekolah bahasa inggris u/ mengirimkan 1 guru khusus (lebih baik lagi kalau native speaker) untuk melatih guru2 berbahasa inggris. Atau, cara paling murahnya, minta orangtua anak untuk jadi sukarelawan mengajar guru2. Kalau saya tinggal di Indonesia dan tidak bekerja, dengan senang hati saya akan mengajukan diri walaupun tidak dibayar – ini cara saya membalas budi guru2 saya yang pantang menyerah dan baik hati walaupun sering saya bikin susah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s