Ayo Bantu Ibu …. :-)

Saya nggak punya pembantu di rumah, jadi pekerjaan rumah tangga mesti dibagi dengan suami dan anak – walaupun kebanyakan tanggung jawab rumah tangga ada di tangan saya yang tidak kerja dan tidak sekolah🙂

Nah, sekarang, kasusnya adalah anak (tiri) saya sebelumnya tinggal dengan mama-nya yang punya pembantu, jadi waktu mulai tinggal dengan saya dia nggak pernah disuruh bantu bapak ibunya. Anak saya usianya 11 tahun waktu mulai tinggal dengan saya + bapaknya (suami saya) dan belajar untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Catat bahwa dia belajar melakukan pekerjaan rumah tangga di usia dimana dia sudah mulai bisa membantah dan pakai alasan macam2 untuk menghindar. Tapi sekarang dia bisa melakukan hal-hal berikut:

– Bantu bapaknya cuci piring

– Menaruh pakaian kotor di laundry basket

– Bantu bapaknya cuci mobil

– Packing sendiri kalau mau traveling atau menginap di rumah temannya

– Bantu saya masak

– Mematikan AC dan lampu kalau tidak dibutuhkan. Ini kelihatannya sepele … but trust me, kebanyakan teman2 anak saya yang pernah menginap masih belum bisa melakukan hal ini!

– Dia sudah bisa pergi ke supermarket untuk belanja (just in case saya kehabisan telor atau gula pas masak .. kebetulan supermarketnya tinggal nyebrang) dan bisa memilih sendiri buah yang masih segar (walaupun masih terbatas di pisang, anggur, strawberry, jeruk dan apel. Tapi this is better than most kids!🙂

– Recycling (kami membiasakan untuk memisahkan kaleng, kertas, gelas dan plastik)

Saya menganjurkan supaya anak diajari mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sedini mungkin, terutama kalau anda tidak punya pembantu. Ga cuma masalah meringankan beban anda sebagai Ibu, tapi ini juga  supaya anak belajar tanggung jawab dan tidak egois. Misalnya, kalau dia harus cuci piring, dia secara tidak langsung akan berpikir dua kali sebelum mengambil gelas baru tiap kali mau minum (karena dia harus ikut nyuci🙂

Masalahnya, gimana cara ngajarin hal-hal ini ke anak? Ini beberapa cara yang kami gunakan:

1. Jelaskan dari awal apa tanggung jawabnya, dan efeknya kalau hal itu tidak dikerjakan. Tanggung jawab utama anak kami adalah membuang sampah ke tong sampah besar di lapangan parkir. Kalau hal ini tidak dikerjakan, rumah bakal bau sampah, plus tong sampah akan kepenuhan dan rumah kelihatan kotor. Kalau dia lupa melakukan hal ini, kami ingatkan, tapi kami tidak akan melakukan tugas ini untuk dia kecuali dia meminta kami u/ menggantikan tugasnya saat itu karena alasan yang jelas (misalnya: karena sakit, atau banyak ulangan, dsb), atau minta tukar tugas. Selain mengajarkan tanggung jawab, kami gunakan hal ini untuk mengajarkan dia u/ mendelegasi ketika dibutuhkan.

2. Tunjukkan bahwa semua anggota keluarga harus ambil bagian. Kadang2 ketika kita memulai hal ini, anak komplain karena sebelumnya tidak pernah dikasi tanggung jawab, atau merasa kalau tugas2 ini adalah tanggung jawab saya atau pembantu. Untuk hal ini, membantu sekali kalau keluarga punya “chore chart”. Di chart ini, ditulis bahwa bapak harus cuci mobil tiap kali habis hujan, atau setidaknya seminggu dua kali. Bapak harus cuci piring tiap kali saya masak makan malam. Pas weekend, suami saya bagian beresin tempat tidur di master bedroom. Saya harus laundry tiap hari Selasa dan Jumat. Saya masak tiap weekday night. Anak buang sampah seminggu sekali dan beresin kamarnya sendiri. Kalau ada “chore chart” yang gampang dilihat, anak tidak bisa argue bahwa hanya dia yang dikasi kerjaan … semua anggota keluarga punya tugasnya masing2.

2. Ajarkan dia cara mengerjakannya, dan awasi beberapa kali. Misalnya utnuk memilih buah, saya ajak dia ke supermarket untuk pilih2 buah. Saya tunjukkan bedanya anggur yang bagus dengan yang jelek. Kali berikutnya, saya tanya dia, “Anggurnya bagusan yang mana, ini apa itu?” Setelah saya tahu kalau dia sudah bisa memilih, sekali waktu saya biarkan dia ke supermarket sendirian untuk membeli beberapa item.

3. Jangan harapkan dia untuk sempurna di kali pertama. Pertama kali anak saya cuci piring, of course piringnya masih berminyak. Pertama kali dia menaruh cucian di rak piring, of course gelasnya menghadap ke atas, nggak ditunggingin :-)  Ga usah dimarahi … udah bagus dia mau bantu. Kasih tunjuk aja, “Kalau gelas, naruhnya begini ya, supaya cepet kering …” dan kalau cucian kurang bersih, kasih tau aja, “Coba rasakan dengan jari kamu … masih lengket ga? Kalau masih lengket, mungkin sabunnya kurang banyak atau bilasnya kurang bersih, coba diulang lagi …”

4. Jangan paksa dia untuk mengerjakan sesuatu secepat anda dan persis seperti anda. Pertama-tama, ingat bahwa anda bisa melakukan hal-hal ini dengan cepat karena terbiasa. Anak anda baru belajar, jadi jangan diburu-buru. Kedua, misalnya, kalau memasukkan pakaian ke gantungan baju dan ke lemari, saya terbiasa semua pakaian menghadap ke satu sisi, dan gantungannya sama semua. Baju rumah, baju pergi, baju pesta, semua terpisah. Nah, anak saya masukkin kaosnya sering terbalik-balik dan pakaiannya menghadap ke kiri kanan, ga seragam. Naronya di lemari juga asal taro. Saya biarin aja … lha wong itu lemari pakaiannya sendiri kok, sebenernya khan ya terserah dia mau diatur bagaimana. Kalau dia happy dengan pakaian yang menghadap kemana-mana dan tidak kesulitan cari baju seragamnya di pagi hari, ya monggo … kalau dia kesulitan menemukan pakaiannya, lama2 toh dia akan belajar sendiri bagaimana supaya pakaiannya lebih teratur. Saya bukan orang yang naturally organized dan saya juga baru ngeh cara ngatur lemari pakaian yang efisien setelah menikah, jadi ga fair lah kalau saya mengharap anak bisa melakukan hal ini di usia 12 tahun🙂

5. Jangan pelit dengan pujian. Kadang-kadang, melihat anak mecahin piring satu waktu belajar nyuci piring, atau kalo beresin tempat tidurnya masih miring-miring, kita tergoda untuk bilang, “Kok gini sih? Salah lagi …. Duh kamu ‘ni bagaimana sih???” Kalau anda bereaksi seperti ini, anak akan makin tidak minat untuk membantu. Kuncinya adalah kalau anak sedang belajar melakukan hal itu dengan benar, sebaiknya kita dampingi ketika melakukan hal itu supaya ga ada piring pecah atau kita tidak mengulang pekerjaannya. Berikan affirmation seperti: “Ya, benar begitu …”  “Seperti ini niy ….” “Ga sulit kan?”  “Tuh, kamu bisa kok!” “Wah, bersih dan rapi! Terimakasih ya!”  Positive reinforcement seperti ini akan berdampak lebih positif daripada nyuruh-nyuruh🙂

Selamat mencoba, semoga sukses

2 thoughts on “Ayo Bantu Ibu …. :-)

  1. enak ya punya anak yang manis,kalau anak saya senang banget kalo disuruh hal2 yang beginian,tapi karena adiknya 2 orang laki laki,maka dia jadi uring2an,karena yang ngeberantakin 2 orang,cuma dia yang ngeberesin bagaimana ya solusinya

    1. Hi Diana, yang penting adalah
      (1) masing2 anak diberi tugas yg berbeda sesuai umurnya

      (2) jangan biarkan orang lain u/ melakukan tugasnya. Misalnya, di rumah saya, walopun seminggu sekali ada pembantu dateng, saya bilang: “Jangan cuci baju anak saya kecuali bajunya ada di laundry basket.” Beberapa kali baju kotornya numpuk di lantai kamar mandi, kita biarin aja, lama2 dia kehabisan seragam sekolah … baru kami ingatkan lagi tugasnya, plus dia harus nyuci baju seragamnya sendiri malem2🙂 Biasanya anak laki emang lebih susah fokus, tapi kalo orang tuanya konsisten mendisiplin, mereka akan lebih cepat adapt.

      (3) Kita ingatkan tugasnya. Kalo berkali2 lupa atau sok2 lupa, boleh pake hardikan, “Tolong beresin ya. SEKARANG!!!! Mama tunggu sampe selesai”. Kalau ga mempan juga, kita bisa pake kompensasi tertentu. u/ anak saya, biasanya dia tidak boleh main komputer sampai semua tugasnya selesai dengan baik.

      Awalnya emang sulit u/ menciptakan habit ini. Kadang2 kitanya juga yang ga sabaran, atau ga tega. Tapi kalau mama papanya sama2 tegas dan konsisten (jangan “Ya udah, ini terakhir kali ya…”, atau mamanya bilang harus beresin, tapi papanya bilang biar pembantu aja ….) anak akan cepat terbiasa. Children have an amazing ability to adapt …. jadi kita jangan takut mendisiplin – after all this is for their own good.

      Good luck ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s