Membiarkan Anak Belajar dari Pengalaman

“Pengalaman adalah yang guru terbaik”, katanya. “Belajarlah dari kesalahan,” katanya lagi. Dan saya mengimani pernyataan-pernyataan ini.

Tapi sebagai orang tua, tentunya kita ingin anak tidak mengulangi kesalahan yang dulu pernah kita lakukan. Kita ingin mereka belajar dari pengalaman kita, bukan dari pengalaman sendiri. Dan kita jadi over protektif, karena takut anak cidera lah, kotor lah, nilainya turun lah, dsb. Kita (terutama kalau kita ibunya) maunya anak kita safe, secure dan sehat.

Karena itu kita minta anak untuk tidak lari-lari, tidak keringetan, tidak keluar rumah tanpa didampingi, tidak jajan sembarangan, tidak bicara ketika orang tuanya ngobrol dengan teman sejawatnya, tidak ini, tidak itu.

Tapi akhirnya anaknya jadi “wimpy” … kalau dia ga belajar untuk independen dan punya pengalaman ini itu, gimana dia akan jadi survivor setelah dewasa?

Karena itu, saya dan suami menetapkan bahwa anak kami harus well-rounded, harus belajar dari banyak pengalaman. Kami biarkan dia mencoba macam-macam hal, dan kami dampingi dia atau biarkan dia mengalami sendiri berdasarkan resiko yang dia hadapi:

1. Kalau resikonya kecil, kami biarkan dia untuk mencari jalan keluar sendiri. Misalnya, waktu umur 10 tahun dia belum bisa buka segel kaleng atau botol (karena dulu selalu dibukain pembantu). Sekarang kita bilang, “Kalau kamu beli minum, ya harus buka botol / kalengnya sendiri.” Pernah dia coba2 buka botol sampai sejam lebih, saya biarkan saja. Saya ga menawarkan bantuan walaupun dianya putus asa. “Kalau kamu mau minum apple juice itu, ya buka sendiri botolnya.” Dia pakai segala macem alat mulai dari sedotan, gunting, gigi, karet gelang, dsb … biarkan saja dia bereksperimen. Ya di awalnya kami ajarkan cara bukanya, tapi tau sendiri dong anak kadang merasa caranya lebih oke. Ya monggo dicoba🙂

Demikian juga dengan sekolah. Di 2-3 minggu pertama di tiap term, kami biarkan dia bikin PR dan belajar untuk ulangan sendiri tanpa kami gerecoki. Biasanya di 2-3 minggu ini, PR masih gampang dan bobotnya tidak besar. Kalaupun dia lupa atau nilainya jelek, masih ada waktu untuk memperbaiki, tapi dia jadi sadar apa kelemahannya dan bahwa untuk hal-hal tertentu dia masih butuh saran dari orang tuanya (sekali waktu, dapet nilai nol atau 30 ‘tu bisa jadi wake-up call yang baik untuk anak yang terlalu pede🙂  Dari 2-3 minggu ini kami bisa memantau sudah seberapa jauh kemajuannya untuk soal tanggung jawab dan problem-solving. Dari pantauan ini kami bisa menentukan seberapa besar peran kami masih dibutuhkan untuk bantu dia belajar.

2. Medium risk – resikonya besar tapi bisa dihilangkan kalau orang tuanya mengawasi. Ga tau kenapa, anak saya ini kok senang masak… jadi saya biarkan dia bantu saya masak di dapur, tapi dia harus saya dampingi ketika masaknya memerlukan pisau dan kompor karena resikonya lumayan besar kalau dia salah nyalakan kompor or salah potong, tapi kalau saya awasi sambil dia kerja, dia nggak akan salah nyalakan kompor atau potong jari.

Di liburan akhir tahun bulan lalu, kami putuskan anak saya sudah boleh nyoba nyetir jet ski. Tapi karena baru 12 tahun, saya atau bapaknya akan duduk di belakangnya sekedar untuk memastikan bahwa dia tidak nyetir ke perairan dangkal, ga terlalu ngebut, dan tidak terlalu dekat ke jet ski atau perahu lain. Dan karena kami percaya dia bisa, dia jadi semangat (ga banyak anak 12 tahun yang dibolehkan nyetir jet ski oleh orang tuanya), tapi tetap tanggung jawab … dia ga pernah ngebut-ngebut banget, dan selalu jaga jarak dengan perahu lain🙂

Kami bawa dia untuk melihat orang dewasa melakukan profesinya. Pernah kami bawa dia ke kantor pengacara, ketemu interior designer kami, dia pernah diajak lihat cockpit pesawat (cabin crew-nya baik, dia dikasi ngobrol sama kapten-nya waktu kapten-nya lagi istirahat), dsb. Sebelumnya kami beritahu, “Kalau mereka lagi ngobrol dengan orang lain atau lagi konsentrasi, jangan diganggu ya. Kalau mereka lagi tidak sibuk, kamu boleh tanya2.”  Dia tidak pernah teriak-teriak atau motong percakapan kami dengan pengacara atau banker … dia selalu tunggu sampai orangtuanya selesai bicara dan form2 selesai ditandatangan, baru dia tanya, “Kok kantor pengacara isinya buku tebel2 sih?? Harus dihapal semua???”

3. High risk – anak ini belum waktunya mengalami hal demikian, cukup kita tunjukkan. Minggu lalu ada kecelakaan di depan apartemen kami … ada mobil ngebut lalu selip, mobilnya spinning beberapa kali lalu nabrak pohon persis di dekat kursi driver. Untuk mengeluarkan driver-nya dari mobil, pemadam kebakaran harus menggergaji bagian depan dan atas mobil. Driver-nya pingsan dan at least patah beberapa tulang, tapi bisa diselamatkan. Setelah ambulans, polisi dan mobil pemadam kebakarannya pergi, kami ajak anak lihat mobil yang belum diderek ini, sambil beritahu, “Kalau nyetirnya ngebut, hilang konsentrasi sedikit hasilnya bisa seperti ini. Kalau nanti kamu sudah bisa nyetir, hati-hati ya. Nyawa bukan mainan, ga ada gantinya.”

Bulan lalu, ketika kami makan di Malibu Beach, saya pengen nyoba mojito di restoran yang terkenal ini. Saya sudah tidak minum hard liquor selama 10 tahun, paling cuma minum segelas wine sekali waktu. Dengan perut kosong, saya nyeruput mojito ini, dan kepala saya mulai pusing walaupun 1/2 gelas belum habis, makanannya jadi ga enak, dan setelah makan dan lagi jalan-jalan di mall saya lari ke toilet untuk memuntahkan semua isi perut saya. Anak saya tahu bahwa saya dan suami hanya minum alkohol sekali waktu dan tidak pernah lebih dari segelas, tapi suami saya menggunakan kesempatan itu untuk mengajari dia, “Mabok ‘tu ga seru – kamu kehilangan kontrol atas diri kamu sendiri. Liat ‘tu mamimu pusing and muntah ga keruan. A glass of wine is okay every now and then, tapi jangan kemakan ajakan teman untuk mabok ya, walopun temen bilang kamu chicken, wimp, dllsb!”  Kebetulan anak saya jijik kalau lihat orang muntah (dia ga pernah muntah kecuali waktu bayi), jadi angle “mabok = muntah” ini cocok untuk ngajarin dia tentang responsible drinking🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s