Ketika Anak Mulai Berbohong …

Nggak tau gimana caranya, anak kok bisa self-learn bagaimana berbohong sejak kecil. Riset yang dilakukan Dr. Victoria Talwar (Kidder, Good Kids, Tough Choices, p. 10)  menyebutkan bahwa anak sudah MULAI bisa berbohong umur 3 tahun, dan ketika tidak diintervensi sejak awal mereka akan mulai SERING berbohong di umur 4 tahun.😦

Waktu masih kecil, biasanya kita tahu lah kalo mereka bohong. Tapi, menurut riset yang sama, di usia 8 tahunan anak yang tidak diintervensi sudah MAHIR berbohong dan menutupi jejaknya.

Anak  saya sekarang umur 14 tahun, dan dia nggak kebal dari masalah bohong-membohongi ini. Dia termasuk yang jarang sekali bohong ketika masih anak, baru ketika mulai pra-remaja dia mulai coba2 berbohong – mungkin karena dipengaruhi teman2nya.

Tapi, untungnya, dia mulai berbohong di saat dimana dia sudah melewati pengajaran bertahun-tahun bahwa bohong itu tidak baik, jadi kalau ketahuan dia sadar bahwa dia salah dan dia menerima konsekuensinya dengan besar hati.

Kami pun masih terus belajar bagaimana caranya menanamkan bahwa bohong lebih banyak rugi daripada manfaatnya, tapi kami menemukan bahwa beberapa tips dibawah ini cukup efektif:

1. Ajarkan nilai-nilai truthfulness, honesty sejak kecil. Orang tua harus menyontohkan perilaku ini. Misalnya, ketika ada restoran yang memberikan kembalian terlalu banyak, kita kembalikan kelebihannya. Ketika anak saya terancam tidak ikut karyawisata karena saya lupa menandatangani surat izinnya, saya minta maaf dan berusaha menelpon gurunya u/ menjelaskan masalahnya daripada bilang, “Kamu sih, nggak ngingetin mami, kan kamu yang butuh!”

2. Jadikan orang tua teman-teman dekat anak anda teman anda. Ada beberapa kesempatan dimana kami realize anak kami bohong karena saya mengecek ke orang tua temannya, karena dia bilang dia pergi ke rumah temannya ini untuk bikin tugas kelompok. Ternyata mereka bilang anak mereka nggak di rumah juga – ngomongnya ke tempat saya u/ tugas kelompok jadi mereka tidak khawatir karena anak ini memang sering main ke rumah saya. Mulai lah ketauan bohongnya … dan setelah mengecek HP dua anak ini, ternyata dari 2 hari sebelumnya mereka memang menyusun rencana berbohong ini supaya bisa pergi LAN gaming sampai malam di hari biasa (dimana mereka tidak bisa main game di rumah atau pergi ke gaming center).

3. Beri hukuman yang melebihi benefit dari berbohong. Dengan berbohong di contoh kasus di nomor 2 itu, anak saya mendapat sedikit “benefit” yaitu bisa pergi LAN gaming selama kurang lebih 5 jam. Tapi sebagai hukumannya, papa-nya memberi konsekuensi dia nggak boleh main game selama 2 bulan. Ini berarti dia kehilangan 12 jam game per minggu selama 8 minggu = 96 jam, supaya dia realize bahwa berbohong jauh lebih banyak ruginya.

4. Jangan bosan ajarkan bahwa dalam kehidupan nyata, bohong pun sama saja akibatnya – enaknya sebentar, ruginya berlipat ganda. Kalau ada orang sekantor yang dipecat dan dipidana karena berbohong (e.g. mark up, korupsi, memfitnah bos-nya), ceritakan ini ke anak. Juga ajarkan anak untuk mengikuti berita seperti kasus Bernard Maddoff yang bisa menipu dan mengeduk uang kliennya beberapa tahun, tapi sekarang dipenjara 150 tahun. Dia dicerai istrinya dan satu anaknya bunuh diri karena depresi. Kekayaan dan asset-nya pun disita. Apakah membohongi orang dan menikmati uang mereka selama beberapa tahun worth it setelah ketahuan? Never.

5. Kaitkan ajaran agama anda dengan kehidupan nyata. Seringnya, susah mengajarkan nilai2 agama seperti kejujuran hanya berdasarkan pada nilai agama (mis: jangan bohong karena itu dosa). Kita terkesan old-style dan menggurui. Yang kita praktekkan di rumah adalah mengajarkan bahwa Tuhan mengajarkan nilai2 kebaikan, seperti berkata jujur, karena Tuhan tahu bahwa nilai2 ini lah yang akan membuat manusia dipercaya orang lain, sukses, bahagia, sejahtera, dan tidak mengumpulkan musuh.

Bisa berikan contoh2 ayat atau kisahnya – tapi selalu tarik ke aplikasinya hari ini, misalnya – kalo di Alkitab saya dari Mazmur 34:12-13 “Whoever of you loves life and desires to see many good days, keep your tongue from evil and your lips from telling lies.” “Many good days” definisinya macam2 – bisa punya banyak teman, disegani, sukses dalam karier dan keluarga, diberi tanggung jawab dan kepercayaan yang besar, dsb. Dan kita bisa mengajarkan bahwa truthfulness dan honesty lah yang akan membuat “many good days” ini datang dan tinggal dengan kita, sementara kebohongan mungkin membuat hidup Bernard Maddoff (kembali ke contoh di nomor 4) enak, tapi semu dan sementara. Sekarang dia tidak punya teman, kehilangan keluarganya, tidak bisa menikmati hartanya, seumur hidup jadi kriminal, dan ketika mati tidak ada yang mengingat hal2 baik yang mungkin pernah dia lakukan.

6. Reinforce, reinforce, reinforce. Sama seperti kebanyakan peraturan lain yang perlu terus disosialisasikan secara berkala, jangan bosan mengulang value2 ini kepada anak ketika ada kesempatan. Setelah kejadian di contoh nomor 2, anak saya lumayan lama tidak bohong, tapi kira2 6 bulan kemudian ada kejadian lagi dimana dia “mencuri” waktu main game di jam tidur, dan ketahuannya setelah dia melaukan ini bbrp bulan. Pantes dia pagi gak pernah bisa bangun  dan di sekolah seringnya nggak memperhatikan lalu nilainya turun … lha wong malamnya tidur cuma 2-3 jam!

Sambil menunggu papanya pulang dari business trip sebelum kita “rapat keluarga” untuk memutuskan konsekuensi dari “pencurian game time” ini, saya menggunakan kesempatan ini untuk mengingatkan dia apa yang terjadi ketika terakhir dia kepergok berbohong. Buat dia ingat bahwa konsekuensi berbohong jauh melebihi benefit.

6. Ajarkan korelasi antara berbohong dan trust. Anak pra remaja / remaja sudah bisa diajari konsep ini, sementara anak kecil lebih ke sistem reward-punishment yang simpel (kalau kamu bohong, kamu grounded). Kembali ke kasus di nomor 2, selain anak saya kehilangan game time selama 2 bulan, tiap kali dia mau pergi ke mall bareng teman2nya (mis: karena temannya ultah dan mau nonton bareng), kita tanya filmnya mulai jam berapa (dan kita cek online, bener nggak jadwalnya demikian), lalu kita langsung jemput setelah film selesai dan kita mau lihat sobekan tiketnya – karena kita tidak membolehkan dia main di gaming center di mall2 dan kita ingin memastikan bahwa memang dia nonton film, bukan gaming.

Kita jelaskan bahwa saat ini, kita melakukan hal2 yang sepertinya keterlaluan ketatnya ini karena trust level is low dan dia harus berupaya dari awal lagi untuk win our trust. Anak perlu belajar bahwa ketika mereka berbohong, mereka merusak kepercayaan orang terhadap mereka. Akibatnya, orang2 ini (termasuk orang tuanya) mau tidak mau membuat aturan yang lebih ketat untuk memastikan bahwa mereka tidak dibohongi lagi.

Bedanya hanyalah orang tua akan memberi kesempatan bagi anak u/ belajar dari kesalahannya dan memberi maaf, sementara orang lain -di dunia nyata- banyak yang memilih untuk tidak memberi kesempatan kedua. Sekali ketahuan berbohong / menipu / cheating / plagiarize, konsekuensinya (kalau masih sekolah) bisa dikeluarkan dari sekolah atau tidak lulus subject tersebut. Kalau sudah kerja, sekali ketahuan bisa langsung jadi pengangguran.

7. Sampaikan bahwa anda melakukan ini karena anda care. Di awal dan akhir percakapan2 yang “nggak mengenakkan” ini, kita selalu sampaikan bahwa kami pun sebenernya nggak ingin sampai harus melakukan hal2 ini untuk make sure dia tidak berbohong lagi di kemudian hari. Jadi satpam anak bukan hal yang entertaining buat kami. Tapi ini lah tanggung jawab kami sebagai orang tua untuk mendidik anak dengan ethical values dan Godly characters. Kami melakukan ini karena kami care dan kami ingin anak2 kami menjadi orang-orang yang dipercaya, bertanggung jawab dan punya damai sejahtera.

Survei yang dilakukan oleh National Association of Secondary School Principals di AS membuktikan bahwa 80% anak tidak keberatan didisiplin oleh orang tuanya, dan mayoritas peserta survey yang diadakan oleh Howe & Strauss dalam bukunya Millenials Rising menyatakan bahwa walaupun di rumah ada banyak aturan, aturan2 tersebut fair. Jadi jangan takut mendisiplin anak karena takut relasi anda dengan anak memburuk – yang terjadi justru sebaliknya. Kalaupun anak anda belum bisa menghargai disiplin anda sekarang and suka ngambek, mereka akan menghargai didikan anda di kemudian hari, sama seperti saya sekarang sangat menghargai didikan orang tua saya dari kecil sampai saya umur 18 tahun🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s