Tentang Hasil Tes PISA Indonesia yang “Jeblok”

Saya memutuskan u/ blogging disini u/ menjawab artikel dari Esther Lima di blog Kompasiana yang mengatakan bahwa Indonesia meiliki “Sekolah Terbodoh Di Dunia vs Sekolah Juara Olimpiade Internasional”. Artikel lengkap ybs. bisa dibaca di sini, tapi komen saya nggak pernah bisa ter-upload.

Artikelnya secara eksplisit menyebut SMUK1, almamater saya. Jadi, sebagai alumni SMUK1 yg juga orang tua murid yang  sekolahnya diikutsertakan u/ PISA tes (mewakili Singapur), izinkan saya meletakkan “glorification” of SMUK1 dan hasil tes PISA dalam konteks yang benar:

Tentang SMUK1 – kurikulumnya tidak spesial. Yang spesial dr SMUK1 adalah mereka super selektif memilih anak yg bisa masuk ke situ. Rata2 ujian nasional di bawah 8, terutama untuk math english science? Jangan harap bisa masuk – berapapun uang yg anda punya. Jadi SMUK1 dipenuhi anak2 yang pada dasarnya sudah pintar, rajin, ambisius, berbakat dan biasanya punya nilai bagus di standardized test semacam PISA ini. Yg spesial di SMUK1 bukan kurikulumnya tapi bibit awalnya yg sudah unggul, sehingga SMUK1 punya “privilege” untuk bisa memberikan materi2 yang lebih challenging, seringkali dengan mengadopsi materi universitas terutama di subject2 Science, Math and Technology, u/ diberangus anak2 SMA.

Now tentang PISA. Peringkat PISA jelek bukan kiamat kalau kita lihat konteksnya. Pertama, negara peserta PISA cuma 60-an, yg semuanya adalah OECD members yang adalah negara2 maju dan emerging market. Gak heran Indonesia peringkatnya jelek kalau dibandingkan Singapura, USA, Norwegia dsb. Kalau kita peringkatnya di bawah Honduras, Uganda dsb baru saya heran …

Kedua, tes PISA bisa dimanipulasi dalam pelaksanaannya. Satu contoh. Anda lihat peringkat Shanghai yang sangat tinggi? Kenapa tidak seluruh China diikutsertakan? Karena Shanghai jauh lebih kosmopolitan dan berpendidikan tinggi daripada the rest of China. Kalau the rest of China diikutsertakan dalam tes PISA, saya rasa peringkatnya akan jauh dari Top 10.

Lalu, negara partisipan bisa saja memilih sekolah2 berprestasi untuk ikut serta tes PISA supaya peringkatnya terdongkrak, walaupun mestinya tes PISA mengikutkan representatif sekolah berprestasi, sekolah rata2 dan sekolah yang kurang berprestasi. At the end of the day, sampling-nya bisa dimanipulasi oleh negara partisipan dan tidak ada kontrol atas akurasi “representative sampling” ini. Misalnya: sekolah anak saya diikutkan tes PISA untuk Singapura, dan nilai rata2 PISA di sekolah anak saya lebih tinggi dari nilai Singapur, sehingga rangking Singapur terdongkrak karenanya. Important to note bahwa sekolah anak saya hampir tidak ada warga negara Singapur dan kurikulumnya bukan kurikulum Singapur. Menurut saya, tidak semestinya Singapur mengikutkan sekolah anak saya dan mengambil kredit untuk hasil yang keren yang bukanlah hasil kurikulum dari negaranya sendiri.🙂

Satu lagi contoh “manipulasi”. Tes PISA seharusnya diambil tanpa persiapan. Tetapi Stephen Martin dari The Daily Telegraph menulis bahwa beberapa peserta dari negara yang rangkingnya tinggi mengaku bahwa mereka melakukan persiapan supaya hasil tes PISA-nya lebih bagus.

Ketiga, there are no instant results. Tidak adil kalau kita hanya memaki2 sistem pendidikan Indonesia ketika nilai PISA 2012 kita jelek. Yang justru lebih penting adalah melihat data per sekolah, year-on-year improvement, dan data angket di belakang hasil tesnya. Misalnya:

  • tahukah anda bahwa rata2 peserta PISA dari Indonesia jumlah hari bolosnya lebih banyak dari anak2 di negara yang rangkingnya tinggi? Selain itu, makin banyak bolosnya, makin rendah nilai PISA-nya. So … bagaimana kita menciptakan environment di sekolah (dan di rumah) yang membuat anak tidak ingin / tidak bisa absen sering2?
  • tahukah anda bahwa walaupun nilai Reading, Math dan Science Indonesia jeblok, anak-anak Indonesia adalah student yang paling happy di sekolah? Sementara yang paling stres adalah anak2 Korea Selatan yang rangking PISA-nya cukup mentereng. Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini? Bagaimana kita improve prestasi tanpa membuat anak2 ini jadi stres seperti anak2 di negara2 Asia lain yang high achiever tapi kurikulumnya terlalu fokus di ujian2 standardisasi?
  • Selain itu, Depdiknas juga perlu melihat sekolah2 mana di Indonesia yang skor PISA-nya lebih tinggi dari rata-rata nasional. Apa yang bisa dicontoh dari sekolah itu untuk perbaikan kurikulum nasional? Depdiknas punya hasil tes PISA yang detil per sekolah dan bisa menjawab pertanyaan ini kalau mereka mau menganalisa datanya dengan seksama. Darimana saya tahu kalau data ini tersedia? Karena saya tahu hasil tes PISA Singapur overall dan hasil tes PISA khusus u/ sekolah anak saya. Kalau Singapur punya, tentunya Depdiknas punya.

Masalahnya, kalau melihat tren nilai PISA Indonesia dari tahun 2000 sampai sekarang yang selalu jongkok, saya ragu kalau data yg berharga dari PISA tes ini benar-benar digunakan u/ perbaikan kurikulum nasional …

2 thoughts on “Tentang Hasil Tes PISA Indonesia yang “Jeblok”

  1. udah jangang ngeles, tau ga, indonesia ga maju karena segelintir orang pintar teriak, indonesia bukan negara bodoh. jangan cari alasan sanghai jadi kota test. sanghai itu bukan ibukota. indonesia suka ngeles aja seperti bajaj, pantes ga pinter, ga merasa bodoh, jadi ga perlu belajar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s