Pengalaman Kepemimpinan Prabowo sudah CUKUP

Dear all, saya masih menepati janji saya u/ gak tulis review pilpres. Tapi saya nggak mau Indonesia kembali ke zaman militerisme gaya Soeharto. Belon jadi presiden pun, sekarang pun rakyat pro Jokowi (yang saya tahu, at least di Jawa Barat) sudah diintimidasi FPI dan Babinsa. Jadi saya ingin share tulisan teman saya yang mewakili view pribadi saya.

—-

 

Beberapa pihak menganggap bahwa pengalaman panjang Prabowo di bidang militer dan sebagai pendiri partai Gerindra sudah cukup untuk membuktikan kepemimpinan Prabowo. Kata kasarnya, “Emank harus jadi walikota dulu baru boleh jadi Presiden??” Emank ga ada yang mensyaratkan begitu sih. Tapi mari kita telaah sedikit lebih dalam.

Kepemimpinan di dalam bidang Militer.

Saya ga punya background apa-apa soal ini, jadi kalau pendapat saya salah, silahkan dikoreksi. Dari apa yang saya baca, dalam dunia militer, ketaatan bawahan kepada atasan adalah mutlak, dan nyaris tidak ada ruang untuk bernegosiasi.

Kepemimpinan sebagai ketua Partai.

Seseorang hanya akan bergabung ke dalam satu partai politik jika ia entah mengagumi tokoh-tokoh yangmendirikan partai tersebut, atau ia setuju dengan cita-cita partai tersebut sehingga ingin ikut ambil bagian mewujudkannya. Sederhananya, memimpin partai politik adalah memimpin orang-orang yang kagum pada pemimpinnya (jika anda pendirinya maka orang itu kagum pada anda), atau ia setuju dengan ide-ide partai yang juga anda setujui (jika anda adalah salah seorang pendiri yang iku tmerumuskan tujuan partai, maka orang itu setuju dengan ide anda). Tentu saja ada org2 yg bergabung bukan dengan alasan itu, tapi dengan alasan supaya bisa jadi anggota DPR misalnya. Tapi secara umum, orang tidak akan bergabung dengan partai tertentu jika ia tidak setuju dengan garis besar visi misi partai tersebut.

Bagaimana dengan kepemimpinan dalam lingkungan sipil, contohnya kepemimpinan sebagai walikota atau gubernur?

Secara singkat ada 2 hal yang berbeda dengan kepemimpinan dibidang militer dan ketua partai.

Pertama, rakyat sipil TIDAK WAJIB untuk selalu setuju dan taat kepada pemimpinnya. Rakyat bisa tidak setuju dengan gagasan pemimpin,mereka bisa protes, bisa demo dan bahkan bisa menjelek-jelekkan pemimpinnya. Dalam hidup berdemokrasi, justru rakyat diberi hak untuk mengkritisi kebijakan pemerintah.

Kedua, walikota dan gubernur tidak hanya memimpin orang-orang yang setuju dan suka mereka. Tapi mereka juga memimpin orang-orang yang tidak peduli mau dipimpin siapa, dan orang-orang yang justru TIDAK INGIN dipimpin oleh walikotanya (baca : org2 yg ketika pilkada justru memilih lawan politik anda :p) Jadi kalau memimpin partai, itu mayoritas orang yang anda pimpin suka dan setuju dengan anda, maka memimpin sebuah kota bisa jadi seperempat atau bahkan sepertiga orang tidak suka dipimpin oleh anda :O Memimpin orang yang tidak suka anda itu jelas berat tantangannya. : p

Jokowi sudah berpengalaman memimpin orang2 yang suka dia plus memimpin orang-orang yang ga suka atau tidak memilih dia. Di Solo pertama kali menjabat, ia menang hanya dengan 36.62% alias 63.38 % orang soloTIDAK MEMILIH dia, itu lebih dari setengah loh. Lalu putaran kedua, ia menangdengan 90.09% nyaris 3 kali lipat dari angka perolehannya yang pertama. Jokowi berhasil membuat org2 yang tadinya tidak memilih dia, berubah memilih dia. Dia berhasil memenangkan hati rakyat.  Saya cukup yakin jika Jokowi terpilih, kalaupun ia dikritik habis-habisan, di demo ratusan kali, ia tidak akan masalah dengan itu.  Ia tetap bisa mengayomi rakyat, baik yang suka maupun yang tidak. Karena sudah ada buktinya.

Bagaimana dengan Prabowo? Nah kita belum tau. Selama ini Prabowo jika dilihat dari track recordnya, ia baru berpengalaman memimpin orang-orang yang memang harus taat sama dia (militer) dan orang-orang yang setuju dengan dia (parpol) . Bagaimana jika nanti ia harus memimpin orang-orang yang tidak ingin dipimpin oleh dia? Akankah Prabowo bisa lapang dada ketika didemo habis-habisan, dikritik pedas, fotonya mungkin dibakar, bahkan mungkin diejek seperti cara sebagian orang mengejek SBY? (Kita tau, sebagian orang keterlaluan sekali mengejek SBY -.- ) Bisakah ia memenangkan hati orang-orang yang tidak sukadengan dia?  Bisakah ia sabar dan tetapmengayomi rakyat yang ‘bandel’ dan susah diatur seperti orang Indonesia?Bisakah ia memenangkan hati rakyat tanpa kekerasan?  Semua rakyat Korut, TAAT sama presidennya,tapi kita tau itu ketaatan yang lahir dari ketakutan bukan dari kecintaan. Nah akan bisakah Prabowo melakukan itu, memenangkan hati rakyat tanpa kekerasan?

Buat saya itu masih misteri, masih sebuah tanda tanya. Saya tidak bilang Prabowo pasti tidak bisa, pasti mereka semua akan ‘hilang’. No, saya tidak bilang itu. Yang saya bilang, saya tidak tahu karena saya belum melihat ada track record Prabowo di bagian ini (kalau ternyata ada, TOLONG kasih tau saya 🙂 

Jadi ketika harus memilih sesuatu yang masih belum saya ketahui atau memilih sesuatu yang sudah ada track recordnya, jelas saya lebihmemilih yang punya track record. : ) Jika ada teman-teman yang tau mengenai track record prabowo memimpin rakyat ‘sipil’ termasuk org2 yg mungkin ga suka sama dia, silahkan dishare ya.

Bikin Review Pilpres Dong … NOT!!!

Gara-gara review caleg Pemilu Legislatif 2014 yang populer dibaca di blog ini, cukup banyak teman yang meminta saya menulis review serupa untuk Pemilihan presiden 2014. And setelah sempat tergoda, karena tulisan politik beginian adalah resep jitu untuk meningkatkan traffic ke blog saya 🙂 saya memutuskan untuk tidak.

Why??? Here are some simple reasons

1. Capresnya nggak banyak dan digital trace mereka banyak, tidak seperti caleg DPR yang banyak tapi miskin info. Selama anda punya internet, anda bisa mendapatkan banyak info tanpa bersusah payah. Hanya saja apakah berita2 yang tampil di Google search itu sepenuhnya benar dan tidak direkayasa, that’s another story for another day yaaa ….

2. Kolom komentar di review2 capres ini sangat panas, menjurus OOT dan bahasanya lama-lama tidak pantas. Walaupun saya menghargai perbedaan dan orang berhak untuk tidak setuju dengan pandangan saya, lain halnya kalau ketidaksetujuan itu disampaikan di blog saya dengan kata2 yang tidak pantas (mis: ada beberapa comment di posting saya sebelumnya yang pake swear words dan nadanya very hateful, saya tidak approve). Saya lihat postingan2 tentang capres ujung2nya selalu jadi debat kusir antar netters yang bahasanya sampah banget. I don’t wish my writing space to be littered with trashy words and pure hatred towards anyone who happen to have a different opinion from you.

3. Saya bukan buzzer bayaran. Saya tidak menerima uang untuk posting apapun di blog ini, nggak seperti beberapa buzzer yang suka dibooking oleh partai/caleg/capres tertentu. Kalau ada artikel saya yang menguntungkan seseorang atau satu organisasi, itu karena impresi saya terhadap orang/organisasi tersebut positif. Orang2 atau organisasi ini bahkan tidak tahu bahwa saya mereview mereka. Nah, masalahnya, review capres saya sudah pasti bias karena di Pilpres hanya ada 1 pemenang, tidak seperti Pileg dimana “I want a whole bunch of decent people in DPR, nggak peduli partainya”. Nah … bias saya jelas akan jadi target pertanyaan dan makian netters yang nggak setuju dengan pendapat saya 🙂   Udah nggak dibayar, dicaci maki pula hanya karena saya menyampaikan pendapat pribadi …. no thanks!

So anda salah alamat kalau kembali ke blog ini untuk mencari info tentang capres-cawapres, karena setelah ini saya akan kembali menulis tentang my day-to-day rant 🙂   Tapi kalo ada yang mau komen di sini sebaiknya saya coblos siapa di Pilpres, silakan loh ya … I haven’t made up my mind! Tapi tolong bahasanya yang santun …