Bikin Review Pilpres Dong … NOT!!!

Gara-gara review caleg Pemilu Legislatif 2014 yang populer dibaca di blog ini, cukup banyak teman yang meminta saya menulis review serupa untuk Pemilihan presiden 2014. And setelah sempat tergoda, karena tulisan politik beginian adalah resep jitu untuk meningkatkan traffic ke blog saya :-) saya memutuskan untuk tidak.

Why??? Here are some simple reasons

1. Capresnya nggak banyak dan digital trace mereka banyak, tidak seperti caleg DPR yang banyak tapi miskin info. Selama anda punya internet, anda bisa mendapatkan banyak info tanpa bersusah payah. Hanya saja apakah berita2 yang tampil di Google search itu sepenuhnya benar dan tidak direkayasa, that’s another story for another day yaaa ….

2. Kolom komentar di review2 capres ini sangat panas, menjurus OOT dan bahasanya lama-lama tidak pantas. Walaupun saya menghargai perbedaan dan orang berhak untuk tidak setuju dengan pandangan saya, lain halnya kalau ketidaksetujuan itu disampaikan di blog saya dengan kata2 yang tidak pantas (mis: ada beberapa comment di posting saya sebelumnya yang pake swear words dan nadanya very hateful, saya tidak approve). Saya lihat postingan2 tentang capres ujung2nya selalu jadi debat kusir antar netters yang bahasanya sampah banget. I don’t wish my writing space to be littered with trashy words and pure hatred towards anyone who happen to have a different opinion from you.

3. Saya bukan buzzer bayaran. Saya tidak menerima uang untuk posting apapun di blog ini, nggak seperti beberapa buzzer yang suka dibooking oleh partai/caleg/capres tertentu. Kalau ada artikel saya yang menguntungkan seseorang atau satu organisasi, itu karena impresi saya terhadap orang/organisasi tersebut positif. Orang2 atau organisasi ini bahkan tidak tahu bahwa saya mereview mereka. Nah, masalahnya, review capres saya sudah pasti bias karena di Pilpres hanya ada 1 pemenang, tidak seperti Pileg dimana “I want a whole bunch of decent people in DPR, nggak peduli partainya”. Nah … bias saya jelas akan jadi target pertanyaan dan makian netters yang nggak setuju dengan pendapat saya :-)   Udah nggak dibayar, dicaci maki pula hanya karena saya menyampaikan pendapat pribadi …. no thanks!

So anda salah alamat kalau kembali ke blog ini untuk mencari info tentang capres-cawapres, karena setelah ini saya akan kembali menulis tentang my day-to-day rant :-)   Tapi kalo ada yang mau komen di sini sebaiknya saya coblos siapa di Pilpres, silakan loh ya … I haven’t made up my mind! Tapi tolong bahasanya yang santun …

Catatan Penting untuk Relawan PPS (TPS)

Kemarin saya ikut jadi relawan di Panitia Pemilu Luar Negeri (PPLN) Singapura. It was a fun day, ada sekitar dua belas ribu WNI yang datang, mulai dari yang pake tas kresek sampe tas Hermes, oma opa yang didorong di kursi roda, yang mahasiswa, yang TKI, sampai anak-anak muda dual citizen yang gayanya mirip Cinta Laura.

Anyhow, saya agak-agak menyesal karena camera phone saya sudah kehabisan batere sebelum TPS tutup, sehingga saya tidak bisa memotret beberapa hal sebagai barang bukti kalau sampai nanti ada irregularities. Tapi saya melihat banyaknya precaution yang diambil KBRI Singapura untuk mencegah kecurangan, mulai dari merusak semua surat suara sisa sampai menyimpan semua stationeries sisa di basement yang dilengkapi CCTV, dan karenanya saya tidak khawatir untuk suara Singapura.

Tapi dari pengalaman saya hari Minggu kemarin, ada beberapa catatan yang ingin saya share kepada para relawan dan pemilih yang baru akan ke TPS tanggal 9 April:

1. Untuk petugas TPS: jangan tandatangani surat suara in advance. Tunjukkan kepada pemilih bahwa surat suaranya bersih, tidak ada coblosan/coretan. Baru setelah itu tandatangani surat suara di depan si pemilih. Ini untuk menghindari surat suara yang sudah ditandatangani tercecer dan disalahgunakan. Ini catatan penting untuk pemilih juga … minta supaya surat suaranya dibuka di hadapan anda sebelum ditandatangani dan anda pakai.

2. Kalau ketua TPS dibuatkan stempel nama dan tanda tangan u/ dibubuhkan di surat suara: setelah TPS ditutup, hancurkan stempel ini di hadapan saksi atau orang lain supaya stempel anda ini tidak disalahgunakan orang lain untuk mensahkan surat suara yang belum terpakai

3. Pastikan setiap pemilih tidak membawa tas, handphone dan bolpen ke dalam bilik suara. Di TPS kami ada beberapa yang masih kecolongan membawa bolpen dan menyontreng partai/caleg pilihannya. Contrengan membuat surat suara TIDAK SAH. Untung ada yang melihat, lalu kami rusak surat suaranya dan meminta ybs. memilih lagi dengan cara menyoblos.

4. SANGAT PENTING: Kalau ada surat suara lebih ketika TPS tutup, pastikan anda merusak semua surat suara yang tersisa. Every single one of them! Saya kemarin mendapat lebih dari 2.000 surat suara, yang terpakai tidak sampai 400. Di Singapura kami diinstruksikan untuk merusak (menyilang depan belakang) satu persatu surat suara yang tidak terpakai supaya tidak disalahgunakan. Kalau anda diinstruksikan untuk mengumpulkan surat suara yang tidak terpakai lalu surat itu TIDAK dirusak / dihancurkan di hadapan anda, anda harus protes dan laporkan ini ke Panwaslu dan saksi. Jangan lupa ambil foto surat-surat suara yang disuruh disimpan itu untuk barang bukti

5. Setelah TPS tutup, foto semua bilik suara, terutama styrofoam yg digunakan sebagai alas untuk mencoblos. Posisi bekas coblosan ini memberikan indikasi partai / caleg mana yang banyak dicoblos warga: kanan atau kiri karena cara yang paling umum untuk menyoblos adalah membentang surat suara di atas alas sebelum kertasnya dicoblos. Memang tidak memberikan kepastian partai mana yang banyak dicoblos, tapi at least kalau kita lihat di foto bahwa coblosannya jauh lebih banyak di kanan tetap ketika di-rekap kok suara untuk partai yang posisinya di sebelah kiri (mis: partai nomor 1, 5, 9) jauh lebih banyak … it can be an indication of fraud. Memang tidak bisa dipastikan coblosan2 di kanan itu untuk partai nomor 4, 8 atau 15. Tapi at least ini bisa dilaporkan dan ditelaah lebih lanjut.

6. Setelah anda selesai berhitung dan berita acara penghitungan suara sudah selesai, foto berita acara anda dan -kalau mau- post ini di Instagram atau Facebook sehingga anda punya bukti bahwa hasil akhir di TPS anda sekian. Kalau misalnya nanti hasilnya beda setelah semua laporan diserahkan ke KPU, anda punya bukti yang bisa diakses oleh publik bahwa hasil awalnya tidak demikian.

7. Kalau TPS anda outdoor, pastikan anda banyak minum air dan cukup makan. Ketua TPS saya pusing sampai harus minum obat karena kepanasan dan kurang minum. Di TPS sebelah, satu ibu muntah karena kepanasan. Kami bertugas di TPS dari jam 6 pagi sampai 8 malam – it’s a long day. So take care of yourself.

Selamat bertugas, petugas PPS. I hope you have some fun on the day just like I did! :-)

 

Caleg Dapil DKI III (Jakarta Utara, Barat dan Kepulauan Seribu) yang, Menurut Saya, Layak Diperhatikan

Tidak seperti post saya tentang Caleg DKI 2 yang dikerjakan bersama teman yang sesama non partisan yang tinggal di Singapura, shortlist Dapil DKI 3 saya tulis sendiri, tapi dengan masukan dari teman yang membaca draft-nya.

Pertama-tama, saya mengecek link semua caleg Dapil DKI 3 yang sudah tersedia di sini: http://litsuscaleg2014.wordpress.com/2013/05/15/dki-jakarta-iii/ lalu melakukan Google search dengan mengetik nama masing-masing caleg.

Saya menggunakan kriteria yang sama untuk menentukan apakah caleg tersebut “layak” anda consider:

  1. Ijazah pendidikan berasal dari lembaga yang legitimate. Kalau berpretasi tapi ijazahnya meragukan, langsung kami coret.
  2. Memiliki track record yang jelas dalam memerjuangkan sesuatu yang berarti bagi rakyat Indonesia. Termasuk track record integritas-nya.
  3. Memiliki visi misi yang jelas
  4. Berpegang pada azas Indonesia sebagai negara Pancasila yang menjamin kebebasan beragama dan demokrasi

Ada beberapa hal unik mengenai Dapil DKI 3. Pertama, ada banyak celebrity di Dapil ini, mulai dari Richard Sam Bera, Mat Solar, Jeremy Thomas, Rani si penyanyi lagu Mandarin, Tantowi Yahya, Ida Royani, sampai the infamous Farhat Abbas. Kedua, saya cukup kaget (dalam arti positif) melihat banyaknya caleg etnis Tionghoa. Ketiga, ada banyak caleg yang mengaku sebagai aktifis 1998.

Sekali lagi, banyak caleg tidak memiliki digital trace selain Daftar Riwayat Hidup yang di-posting di kpu.go.id. Karenanya, kalau ada info tambahan yang bisa diberikan mengenai prestasi / wanprestasi caleg tertentu yang bisa dikonfirmasi via media masa atau online, tolong comment di sini untuk melengkapi informasi kami.

 

PARTAI NASDEM

Nomor urut 2, Ulung Rusman – Alumni Universitas Tarumanagara ini adalah aktifis 98 walaupun Untar tidak punya tradisi terlibat politik apalagi turun ke jalan. Ulung sudah aktif berorganisasi sejak kuliah, dan sekarang menjadi pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) sampai menjadi Wakil Sekjen divisi Tiongkok di KADIN. Beliau berhasil merekrut banyak sesama aktifis 98 untuk bergabung dengan Partai Nasdem, yang saya rasa menunjukkan kemampuannya melobi. Beliau masih cukup muda, 38 tahun, seorang wirausahawan (supplier dan kontraktor listrik) yang nyaleg untuk menggairahkan kalangan Tionghoa Indonesia untuk peduli politik. Website-nya: www.ulungrusman.com

PARTAI KEBANGKITAN BANGSA
Unfortunately, tidak ada caleg PKB di DKI 3 yang memiliki visi misi atau rekam jejak yang jelas di media online.

 

PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Tidak ada yang saya bisa rekomendasikan dari partai ini karena visi misi dan rekam jejak tidak jelas, dan dua caleg yang punya banyak digital trace tidak bisa saya konfirmasi integritasnya.
PDI PERJUANGAN
Nomor urut 4, Richard Sam Bera – saya agak2 anti caleg selebriti, karenanya I give them double the scrutiny. Richard is a different case. Dia punya track record yang jelas sebagai pejuang pembinaan olahraga, terutama renang, melalui kiprahnya di PRSI. Beliau nyaleg untuk mengedepankan pentingnya habit berolahraga dan perbaikan kualitas pendidikan nasional. Dia kelihatannya mengincar posisi di Komisi X yang membawahi pemuda, olahraga dan pendidikan. Lengkapnya bisa dilihat di http://www.richardsambera.com.

Nomor urut 8, Risa Binekawati – kalau anda cari seorang intelektual dengan pengalaman internasional, she’s your candidate. Dia punya gelar MBA dari Australian National University dan Master of International Policy & Practice dari George Washington University, dan adalah kandidat PhD dari Australian National University. Semua gelarnya (kec. S1) adalah beasiswa dari pemerintah Australia dan Amerika Serikat yang melihat Risa sebagai pemimpin potensial. Risa punya pengalaman policy making sebagai mantan Direktur Eksekutif Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (MASTEL) yang merancang perbaikan UU Telekomunikasi, dan pernah ikut menangani berbagai tuduhan dumping yang diajukan Uni Eropa dan negara-negara lain terhadap barang produksi Indonesia. Beliau meninggalkan karier korporat di tahun 2005 untuk serius mempelajari ilmu tata kelola pemerintahan dan policy-making untuk Indonesia yang lebih baik. I admire her focus on good governance – ini spesialisasi bidang yang sangat langka di DPR (mungkin karena bidang ini miskin proyek2 yang ada kick back-nya?). Risa cukup rajin menulis, posting yang menurut saya paling menggambarkan idenya untuk Indonesia bisa dilihat di sini (warning: artikelnya panjaaaang): http://nengkoala.com/2013/08/05/saya-bercita-cita/

 

PARTAI GOLONGAN KARYA

Nomor urut 3, Sri Warjoeningsih (Giwo Rubianto Wiyogo) – Pengusaha properti/developer (PT Bumisatu Group) dan menantu mantan gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto (alm.) ini pernah menjabat ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DKI Jakarta di tahun 1994-1997 dan ketua Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sampai tahun 2007, dan sekarang menjadi ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan ketua harian DPP Ikatan Sarjana Ilmu Kesejahteraan Keluarga Indonesia. Giwo memiliki gelar magister Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta. Viewpoint-nya terfokus pada pendidikan anak, perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, sesuai dengan kiprah keorganisasiannya selama 20 tahun lebih. Info lebih lanjut: https://www.facebook.com/pages/SRI-Woerjaningsih/517514315007140?ref=stream atau http://new.giworubianto.com/
PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA
Errhhh … semua calegnya miskin informasi ….

PARTAI DEMOKRAT
Sulit bagi saya untuk fokus menganalisa para caleg dari partai yang menjagokan Farhat Abbas. But to be fair, ada satu caleg yang patut diperhitungkan:

Nomor urut 3, Panangian Simanungkalit – beliau adalah ahli di bidang properti. Pernah menjadi konsultan dan appraiser properti yang juga adalah staf khusus Menteri Perumahan Rakyat periode 2004-2009. Beliau menyatakan Indonesia butuh lembaga pengurus rumah susun dan badan khusus perumahan murah untuk mengatasi kebutuhan perumahan rakyat kelas menengah ke bawah dalam situasi lahan terbatas. Beberapa viewpoint beliau: mendukung diperbolehkannya orang asing memiliki properti http://properti.kompas.com/read/2010/08/05/17215357/20.Persen.Ekspat.di.Jakarta.Pembeli.Potensial.Properti , mendukung dipindahkannya pusat bisnis atau pemerintahan ke lokasi lain untuk mengatasi kepadatan Jakarta, serta mendukung reformasi agraria 2010 dan menginginkan rakyat yang menerima tanah reformasi agraria dibolehkan menjual tanah tersebut setelah lewat 10-20 tahun http://us.bisnis.news.viva.co.id/news/read/184209-bebaskan-rakyat-jual-lahan-reformasi-agraria . Saya hanya berharap agar beliau, sebagai industry player di bidang properti, tidak akan menggunakan statusnya sebagai anggota DPR untuk mengambil keuntungan pribadi atas informasi-informasi pertanahan yang dia dapatkan dari DPR. Semoga. Fingers crossed.

PARTAI AMANAT NASIONAL
Tidak ada yang direkomendasikan karena tidak punya visi/misi atau program kerja yang jelas, atau integritasnya nggak bisa dipastikan.

PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Nomor urut 1, Achmad Dimyati Natakusumah  – beliau adalah bupati Pandeglang 2005-2009 dan anggota Komisi III (Hukum, HAM, Keamanan) DPR RI 2009-2014 dan menjadi wakil ketua Badan Legislasi DPR RI. Beberapa viewpoint beliau: menganggap hukum militer perlu dimasukkan ke Kitab UU Hukum Pidana, pasal santet perlu ada di KUHP, tetapi pasal penghinaan kepala negara tidak diperlukan di KUHP. Mendukung pembatasan penyadapan KPK dalam KUHAP. Ada yang bisa berpendapat bahwa pembatasan penyadapan KPK itu sama dengan menghalangi niat KPK untuk membersihkan pemerintahan dari koruptor. Lalu ketika menjabat bupati Pandeglang, beliau menjadi tersangka kasus suap anggota DPRD tetapi dinyatakan tidak bersalah. Di lain pihak, kinerjanya di DPR dianggap baik, dan (menurut saya) kalau ada legislasi-legislasi yang saat ini belum dirampungkan oleh DPR periode 2009-2014, penting ada beberapa orang lama yang meneruskan duduk di Komisi III DPR supaya RUU yang masih pending itu tidak perlu dibahas dari nol lagi. Track record selama menjadi pejabat pemerintah bisa dilihat di sini: http://profil.merdeka.com/indonesia/a/achmad-dimyati-n/ Nah, simpulkan sendiri deh bapak ini patut didukung tidak.
PARTAI HATI NURANI RAKYAT

Nomor urut 4, Sarbini – ini satu-satunya caleg yang agak lumayan. At least, dia punya pengalaman politik karena pernah menjadi ketua Tim Pemenangan Faisal Basri di Pilkada DKI 2012, ketua tim dukungan langsung caleg DPR Sarwono Kusumaatmaja pada Pemilu 2004, dan menjadi staf ahli anggota DPR Sarwono Kusumaatmaja di tahun 2004-2009. Sarbini juga aktifis 98 melalui FSMJ yang kemudian menjadi pengusaha, mulai dari sektor pertambangan sampai distributor peralatan elektronik. Beliau tertarik berpartisipasi di DPR Komisi IV (pertanian, kehutanan), VI (perindustrian, perdagangan, investasi, koperasi) atau IX (ketenagakerjaan, kesehatan) yang semuanya menyangkut kesejahteraan masyarakat. Lihat visi misinya disini: http://www.antarasumbar.com/berita/politik/j/1/340391/caleg-hanura-dorong-apbn-untuk-kepentingan-rakyat.html. Namun lucunya, bila anda masuk ke Facebook-nya, postingannya selalu tentang parenting / pendidikan anak. Atau cerita wayang. https://www.facebook.com/pages/Sarbini-Caleg-DPR-RI-Dapil-DKI-III/582881488438213?ref=stream. I mean … I like what he wrote about parenting, tapi kok nggak nyambung sama kampanyenya yang soal APBN dan kesejahteraan rakyat ya? So I’m quite intrigued by this man, tapi inkonsistensinya membuat saya bertanya-tanya.
PARTAI BULAN BINTANG
Again, melihat visi partainya, saya tidak bisa merekomendasikan satu pun caleg dari partai ini.
PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA

Nomor urut 8, Meliana “Rani” Pancarani – satu-satunya artis yang saya rasa patut diperhitungkan di Dapil DKI 3. Dia satu-satunya caleg PKPI di Dapil ini yang punya visi misi jelas, yaitu meningkatkan kebanggaan atas budaya nasional, sekaligus promosi budaya Indonesia untuk menarik minat pengunjung dari mancanegara. http://www.antaranews.com/pemilu/berita/425109/meliana-pancarani-ingin-junjung-martabat-bangsa-lewat-kebudayaan. Rani dikenal sebagai penyanyi lagu-lagu berbahasa mandarin dan penyiar radio. Dia juga pernah mewakili Indonesia dalam beberapa tim promosi budaya Indonesia ke China. At least, walaupun dia artis yang miskin pengalaman politik, dia punya program yang fokus dan realistis, dan saya cukup yakin dia tetap akan memperjuangkan kebanggaan berbudaya Indonesia kalaupun nanti dia tidak dapat kursi.

 

Selamat memilih, teman-teman di Jakarta Barat dan Utara! :-)

Caleg Dapil DKI II (Jakpus, Jaksel & Luar Negeri) yang, Menurut Kami, Berkompeten

List di bawah ini dikumpulkan oleh dua orang non partisan yang akan memilih dua caleg dari dua partai berbeda di Pemilu Legislatif 2014. Kami melakukan background check via digital trace ke-84 caleg di Dapil kami karena kami berdua ingin teman-teman kami memilih orang yang mereka “kenal”, tidak sekedar menyoblos partai.

Kami juga ingin mematahkan argumen bahwa “caleg-nya nggak ada yang beres”. Ketika melakukan background check, ternyata jumlah calon yang menurut kami berprestasi lebih banyak yang kami kira.

Kriteria yang kami gunakan untuk menentukan apakah caleg tersebut “layak” anda consider:

  1. Ijazah pendidikan berasal dari perguruan tinggi atau sekolah yang legitimate. Kalau berpretasi tapi ijazahnya meragukan, langsung kami coret.
  2. Memiliki track record yang jelas dalam memerjuangkan sesuatu yang berarti bagi rakyat Indonesia
  3. Memiliki visi misi yang jelas
  4. Berpegang pada azas Indonesia sebagai negara Pancasila yang menjamin kebebasan beragama (in other words: nggak pro syariah Islam)

Cukup banyak caleg yang tidak memiliki digital trace selain Daftar Riwayat Hidup yang di-posting di diasporamemilih.com dan kpu.go.id. Agak sulit bagi kami untuk 100% akurat dan obyektif ketika tidak ada info lebih. Karenanya, kalau ada info tambahan yang bisa diberikan mengenai prestasi / wanprestasi caleg tertentu yang bisa dikonfirmasi via media masa atau online, tolong comment di sini untuk melengkapi informasi kami.

Caleg yang menurut kami layak diperhitungkan di tiap partai, sesuai nomor urut di surat suara:

 

1 PARTAI NASDEM

Semua calon Partai Nasdem untuk Dapil DKI 2 belum pernah menjadi anggota legislatif, tidak ada yang memaparkan visi misi dan digital trace-nya nyaris tidak ada atau hanya sedikit. Hanya satu yang sepertinya lumayan.

Nomor urut 2, Lathifa Marina Al Anshori – Baru berusia 23 tahun, lulusan University of Cairo, Mesir ini pernah menjadi kontributor Metro TV di Timur Tengah and eTV di Afrika Selatan pada saat yg kurang lebih bersamaan. Lihat video Lathifa di Mata Najwa: https://www.youtube.com/watch?v=v0wjXlkuwvI

 

2 PARTAI KEBANGKITAN BANGSA

Nomor urut 3, Dra. Muzaenah Zein -  caleg DPR PKB di Kalteng pada Pemilu 2009, tapi tidak dapat kursi, yang menyatakan khitan perempuan tak ada perintahnya dalam Qur’an dan Hadits. Beliau juga menganggap fatwa haram rokok MUI berlebihan dan mengganggu ekonomi nasional. Beliau sepertinya aktivis NU sejak lama.

Nomor urut 5, Moh. Miftah Farid – Walaupun belum pernah duduk di pemerintahan, Miftah Farid yg baru berusia 33 tahun adalah pejuang hak-hak buruh migran Indonesia (BMI) dan penanggulangan human trafficking. Beliau juga aktif memerjuangkan re-integrasi korban human trafficking ke masyarakat. Beliau menerima Journalis Award untuk Perlindungan Buruh Migran 2012 dan adalah ketua umum Gabungan Aliansi Rakyat Daerah untuk BMI (GARDA BMI).

 

3 PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

Seperti partai Nasdem, visi/misi caleg PKS tidak jelas dan digital trace-nya justru lebih banyak yang negatif daripada positif. Dari keenam caleg, hanya satu yang menurut kami layak diperhitungkan:

Nomor urut 4, Taufik Ramli Wijaya – Dr. H. Taufik Ramlan Wijaya adalah akademisi dan aktifis kemanusiaan yang memiliki gelar doktor dari University of Sheffield dan S2 dari University of New South Wales. Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP PKS dan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. Beliau juga pernah menjadi pembicara Konferensi Internasional tentang “Harmonisasi Peradaban” di Belanda, keynote speaker dalam diskusi “Partai Politik dan Arah Politik Luar Negeri Indonesia,” dan sebagai pembicara pada “Pemimpin Muda Muslim Visioner Untuk Indonesia Lebih Baik” di Kairo.

 

4 PDI PERJUANGAN

Nomor urut 3, Masinton Pasaribu – Bila anda Google namanya, cukup banyak digital trace dan video interview-nya. Beliau adalah aktifis 98 yang cukup vokal dan tidak setuju dengan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Facebook-nya: https://www.facebook.com/MasintonPas.  Beliau kelihatannya kader PDIP yang sangat pro-Marhaenisme, dan tidak setuju dengan pihak-pihak asing yang masuk ke sektor strategis Indonesia (mis: Freeport). Beliau ikut debat di diasporamemilih.com, ringkasannya bisa dilihat di Kompas.

Nomor urut 5, Syahriz Ferdian Azis (Rezy Azis) – Kalau anda ingin nyoblos caleg yang lulusan luar negeri-nya mentereng, Syahriz memiliki BSc dari University of San Francisco dan MBA dari University of Oregon. Nama beserta gelarnya ada di daftar akreditasi Dikti. Syahriz adalah penggagas didirikannya “Badan Intelejensia Indonesia” untuk memperbaiki kualitas pendidikan nasional dan SDM Indonesia. Dia juga pernah berkomentar mengenai kondisi TKI http://apakatacalegln.wordpress.com/2009/03/24/jawaban-dari-caleg-pdip-rezy-aziz/ dan ingin mengampanyekan generasi muda Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan daya juang yang tinggi. http://www.pelita.or.id/baca.php?id=57917. Anda bisa riset lebih lanjut mengenai beliau dengan google nama Rezy Azis.

 

5 PARTAI GOLKAR

Terus terang kami berdua setengah hati untuk background check caleg Golkar … tapi ternyata ada 2 caleg yang kami rasa patut diperhitungkan:

Nomor urut 1, Fayakhun Andriadi – Fayakhun adalah anggota DPR RI Komisi I (Pertahanan, Luar Negeri, Informatika) thn 2009-2014 dan pengurus DPP Golkar yg karier politiknya di Golkar melejit di bawah pimpinan Mr. Teddy Bear J. Dia ketua Departemen Lingkungan Hidup Golkar, juga anggota tim Pengembangan IT Golkar. Selain itu, beliau juga memiliki beberapa usaha sendiri, mulai dari pengecer mainan sampai distributor mobil radio kontrol. Setelah melihat video dan tulisan2nya, orang ini jelas smart dan berpandangan luas. Beliau mendukung penambahan anggaran Kementerian Pertahanan untuk pengadaan alutsista TNI selama proses pengadaannya di dalam negeri. Beliau pro monorail, dan membuat surat terbuka mengecam prestasi gubernur DKI Fauzi Bowo di tahun 2012 walaupun duet Foke-Nara sebetulnya didukung Golkar di Pilkada DKI 2012. Bisa cek beberapa tulisan Fayakhun yang mengkritisi kurikulum Indonesia dan mendukung dual citizenship.

Nomor urut 7, Yovita Lasti Handini – praktisi pendidikan anak dan anak dari Prof. Thomas Suyatno, mantan rektor Univ. Atmajaya dan anggota dewan pakar DPP Golkar. Programnya jelas terfokus di bidang pendidikan, terpusat di perbaikan kualitas guru dan merit-based reward bagi guru serta perbaikan kurikulum nasional dengan berbasis pada pendidikan karakter. Memiliki gelar MSc dari University of Washington, Seattle, dan sekarang menjadi direktur Sentana Montessori School di Bogor. Beliau adalah kader Golkar yang aktif walaupun belum pernah nyaleg, termasuk menjadi wabendum DPP KNPI, organisasi pemuda Golkar. Beliau cukup responsif, pertanyaan di diasporamemilih.com dia respon dan dia aktif menulis di blog-nya: www.yovitalastihandini.blogspot.com

 

6 PARTAI GERINDRA

Nomor urut 1, H. Biem Benjamin – Beliau anak dari komedian H. Benyamin Suaeb dan adalah anggota DPD 2004-2009. Selama menjadi anggota DPD beliau menjadi anggota tim perumus Rancangan UU DPD, legislasi yang penting yang akan menjadi “job description” DPD. Legislasi ini menentukan apakah DPD akan jadi senat yang efektif atau cuma jadi badan tanpa wewenang yang hanya buang duit untuk biaya staf. RUU ini sampai sekarang selalu dipatahkan DPR, karenanya saya pribadi merasa perlu ada mantan orang DPD yang duduk di DPR untuk membuka jalan. Gelarnya dari USA tidak meragukan karena dia juga aktif di PERMIAS, organisasi mahasiswa Indonesia di AS. Beliau juga direktur 2 radio swasta di Jakarta dan aktifis pelestarian budaya Betawi.

Nomor urut 2, Bondan Haryo Winarno – Ahli kuliner dan penggagas program “Indonesia Bergizi” yang mencakup perbaikan gizi bagi ibu hamil dan anak kurang mampu, makanan sehat dan aman di kantin sekolah, pendidikan nutrisi dan kedaulatan pangan. Tanpa jadi pejabat pun beliau sudah memperjuangkan perbaikan gizi dan mempopulerkan makanan Indonesia di mancanegara. Mantan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan dan penerima Satya Lencana ini dengan besar hati mengaku bahwa dia drop out dari UnDip. Bisa lihat beliau ikut Debat Online Diaspora Memilih tanggal 20 Maret 2014.

Nomor urut 3, Ir. Pasti Tampubolon – 30 tahun jd PNS di Departemen Pertanian sampai level Direktur SDM dan Inspektur IV. Sayangnya digital trace-nya hampir tidak ada, kecuali satu esai yang beliau tulis tentang penanggulangan pembalakan liar yang bisa dilihat di sini

 

7 PARTAI DEMOKRAT

Seperti yang kita ketahui, saat ini nama Partai Demokrat sedang terpuruk. Kami berusaha untuk tetap fair dalam menilai para caleg, namun tidak ada kandidat Partai Demokrat yang bisa kami rekomendasikan. Sebagian besar tidak mencantumkan visi-misinya. Kalaupun ada, karakter caleg tersebut diragukan.

 

8 PARTAI AMANAT NASIONAL

Nomor urut 1, Ichwan Ishak Djanggawirana - anggota DPR RI Komisi VII di tahun 2004-2009 yang membawahi sektor Energi, Sumber Daya Mineral; Riset dan Teknologi; Lingkungan Hidup. Program kerjanya di tahun 2004-9 bisa dilihat di http://us.politik.news.viva.co.id/news/read/3296-ir__ichwan_iskak__m_si_. Beliau memiliki interest yang luas dan sudah menulis 7 buku http://ichwanishak.com/visi-misi/. Beliau kaya pengalaman di sektor infrastruktur, migas, pertambangan dan peralatan berat melalui kiprahnya di berbagai perusahaan, most notably sebagai direksi di Bukaka (Jusuf Kalla) dan Arthindo Utama (Hatta Rajasa). Tapi saya agak konflik merekomendasikan beliau karena walaupun rekam jejaknya cemerlang, beliau terlibat di industri yang sangat rawan KKN. Bukaka dan Arthindo beberapa kali muncul dalam artikel2 dugaan KKN untuk proyek-proyek pemerintah yang besar. Saya rasa the fact bahwa sampai sekarang Ichwan Ishak tidak diutik-utik oleh KPK bisa dijadikan indikasi bahwa dia cukup bersih, so far. Hopefully. Fingers crossed.

Nomor urut 7, Yoga Dirga Cahya - baru 27 tahun, tapi sebagai lulusan SMA Taruna Nusantara yang dapat beasiswa di Nanyang Technological University dan kemudian di-hire oleh National Environment Agency Singapura, kecerdasannya tidak perlu diragukan. Dia sangat aktif di berbagai organisasi di Singapura, mulai dari disaster preparedness officer Palang Merah Singapura sampai Indonesian Professionals’ Association. Program beliau mencakup tiga hal: perlindungan tenaga kerja Indonesia, pemberdayaan diaspora Indonesia, dan menggagas Dapil khusus Luar Negeri (terpisah dari Dapil DKI 2). Yoga adalah satu-satunya caleg PAN Dapil DKI 2 yang memiliki program kerja yang jelas terfokus untuk mewakili kepentingan diaspora Indonesia.

 

9 PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Nomor urut 1, Hj. Okky AsokawatiShe’s a former top model, yang mungkin membuat beberapa orang ill-feel. But note that she’s not without substance. Pandangannya terhadap isu-isu wanita dan kesehatan jelas terpapar di website dan interview2 yang dia berikan dengan media, walaupun menurut saya viewpoint dia masih general dan terkesan diplomatis. Beliau memiliki dua gelar psikologi dari UI dan adalah anggota DPR RI Komisi IX (kesehatan, tenaga kerja) periode 2009-2014. Beliau pernah menjadi redaktur Sarinah dan Matra dan kemudian menjadi host beberapa talk show. Posisinya sebagai public speaker dan public figure yang juga seorang wanita dan ibu membuat dia lebih mudah mengampanyekan isu-isu kesejahteraan TKW atau soal kesehatan kepada masyarakat. Beberapa artikel mengenai view Okky: http://www.ayovote.com/profil-caleg-okky-asokawati/ dan http://okkyasokawati.com

Nomor urut 3, Lena Maryana – Wanita muda (34 tahun) pendukung pluralisme di Indonesia ini adalah anggota DPR RI 2004-2009 Komisi II yang menangani pemerintahan, otonomi daerah, aparatur negara dan pertanahan. Sebelumnya beliau konsultan the World Bank untuk proyek pengembangan kawasan terpadu yang dibawahi Departemen Dalam Negeri. Setelahnya menjadi staf ahli Menteri Koperasi dan UKM, mungkin karena pengalamannya membentuk Koperasi Mahasiswa di IAIN Syarif Hidayatullah ketika masih kuliah. Namun visi misi yang terpampang di blognya http://lenamaryana.blogspot.sg/ sama sekali tidak membahas bidang-bidang Komisi II, melainkan lebih ke kesehatan, pemberdayaan perempuan, pendidikan dan perlindungan TKI. Mirip lah dengan sesama caleg PPP Okky Asokawati. Saya pribadi merasa Lena Maryana punya lebih banyak substance, tapi figur seorang Okky Asokawati bisa influence lebih banyak orang ketika harus melakukan grassroot education.

 

10 PARTAI HATI NURANI RAKYAT (HANURA)

Nomor urut 2, Andi Saiful Haq – Salah satu kaum muda intelektual yang ingin terjun ke dalam dunia politik. Aktivis HAM (Kontras Aceh, Ikatan Keluarga Orang Hilang, eks anggota Partai Rakyat Demokratik).   Bidang yang ingin ia tekuni adalah bidang Pertahanan dan Keamanan, TNI serta Intelejensia karena bidang itu sesuai dengan latar belakang pendidikannya (S2 Studi Pertahanan ITB – Cranfield University, Studi Politik Hubungan International – Justus Liebig University Jerman). Sepintas ini bidang yang kurang populer. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang hidupnya masih susah, bidang pertahanan dan keamanan seakan tidak sepenting dibanding dengan masalah kesejahteraan. Namun jika ditinjau dari sudut pandang berbangsa dan bernegara, kita membutuhkan orang-orang yang mau fokus memikirkan pertahanan dan keamanan bangsa. Websitenya penuh dengan informasi tentang dirinya maupun buah pikiranya. Beberapa tulisan Andi: Tentang FPI dan tentang HAM

 

11 PARTAI BULAN BINTANG

Visi partai-nya adalah Terwujudnya kehidupan masyarakat Indonesia yang Islami” sehingga kami memutuskan untuk tidak merekomendasikan satu pun caleg dari partai ini. Melanggar Pancasila dan azas Bhinneka Tunggal Ika gitu loh!

 

12 PARTAI KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA

Tidak ada satupun caleg PKPI yang bisa kami rekomendasikan karena tidak ada yang memenuhi keempat kriteria di atas.

 

Selamat Memilih!

 

My Take on Raising Multilingual Kids

I grew up trilingual: Indonesian, English and the Javanese dialect. I later spent two years learning Japanese at school (and forgot them all), two years of Mandarin (and forgot most of it other than very basic conversation), and two years of Spanish (which I still speak today).

Now I have a two year-old daughter exposed to three languages at home. So I get a lot of questions on how to raise a multilingual kid. Here’s a list of things that work in my situation:

1. Immersion

The four languages I still use are the products of immersion, not in-class learning. My parents never missed an opportunity to host an exchange student from overseas or entertain a foreign guest. Then they would occasionally leave me to entertain the guest. Ha! ☺

The result: I was already holding up hour-long conversations with English native speakers when my friends were learning “How are you?” in Grade 4.

And while I learned Spanish in a classroom as an adult, I spent a month living in Paraguay after one year of learning and I have friends in Latin America whom I continue to stay in touch with. They use me to learn English, I use them to practice Spanish.

2. Songs

Most people are not lyrical listener of songs, meaning they don’t pay much attention to the full lyrics. I do. Growing up in the 90s, I listened to songs while reading the lyrics until I could sing them by memory. I memorized all NKOTB’s songs to Vanilla Ice’s “Ice Ice Baby”. Yes, including the rap bit.

I learned a number of bad words along the way, but most importantly I learned how to use words in various context, how words become sentences, sentences become stanzas, and how beautiful it is when sentences rhyme. Through songs, I also learned that Roxette’s lyrics are really poor English.

3. Bed-Time Stories

My mom read me stories since I was little. When she got bored reading the same books over and over, she made up her own stories or told me something about the family. My mom, an English lecturer, passed on her passion for language and literature to me. She never “taught” me to read, but nevertheless I could read at age 5, even before my friends started learning “ini ibu budi”.

4. Story-Telling

My mom and dad were really good about giving me opportunities to tell a story. Their questions were mostly open ended, like, “Why do you think that’s an elephant and not a tiger?” And I would blurt out sentences like because the “nose” is long, it’s grey, it’s huge, and the ears are floppy.

As I grew older, their questions would be more like, “What do you think?”

To them, language skills are never just about vocabs and memorization of greetings. It’s about being able to use it to communicate.

In addition, I should say that my dad only learned English in his late forties and he had no chance of passing an English exam. But he could deliver formal presentations and engage in day-long discussions on serious matters in English. If I’m an employer, I’d hire my dad over someone who gets A in English exams but is a terrible communicator.

5. Less is More

When I was a child, there was only one TV channel. So my dad recorded, like, 10 half-hour cartoons and I watched them over and over and over again. Eventually I remembered the dialogue line by line, and unconsciously learned sentence structures as well as proper (and improper) responses to questions.

There are so many content and materials these days, it’s really tempting NOT to stick to one set of materials or methodology. My advice: continue to use one set of materials that appeals to your child until he/she masters them before moving on.

6. Internal Motivation

I flunked Japanese real bad and managed to learn nothing in two years simply because I HAD to learn it as part of high school graduation requirement. I had no desire of learning it.

On the other hand, I really wanted to speak Spanish and I was conversational within a year even though I only spent two hours a week in a classroom. The rest was me happily and willingly doing my own practice, from listening to Gloria Estefan to chatting to Spanish-speaking friends.

In summary, what I could say to other parents is that my parents never forced language on me. They simply made sure we grew up in a home where good books are aplenty and the use of multiple languages is the norm. The love of linguistics and literature came later, unforced. And they never used flash cards!!!

This is how I plan to use my one vote for Pemilu Legislatif 2014 :-)

Lima tahun lalu saya golput karena malas daftar Pemilu di kedutaan Indonesia. Tapi tahun 2014 berbeda – KBRI Singapura secara otomatis mendaftarkan tiap orang di database mereka untuk ikut Pemilu. Saya juga bisa memilih via pos. Jadi saya nggak ada alasan untuk nggak milih lagi :-)

ImageSo I plan to use my voting right. But I only have one vote, and this is how I plan to use it:

  1. Background check para calon (legislatif maupun eksekutif) di daerah pemilihan (Dapil) saya. Dari kedua belas partai. Yep!
  2. Saya tidak mau nyoblos partai. Saya tidak percaya satupun dari kedua belas partai di tingkat nasional. Di tiap partai, so far, saya lihat ada caleg yang crooked dan credible. Hanya menyoblos gambar partai berarti menyerahkan hak suara anda kepada partai tersebut untuk menempatkan “anak emas partai” di kursi DPR / DPRD.
  3. Saya akan menyoblos individu yang loyal pada prinsip dan misinya, bukan yang loyal pada partainya. Darimana kita bisa tahu hal ini? Tidak terlalu sulit. Orang yang setia pada “panggilannya” biasanya punya track record yang konsisten dalam memerjuangkan hal tertentu, tidak peduli jabatan atau partainya.  Dalam beberapa kasus, orang-orang seperti ini mungkin pernah berpindah-pindah partai, atau lebih dikenal sebagai non partisan, karena mereka ingin bernaung di partai yang mengakomodasi misi mereka. Kalau partainya tidak lagi mendukung misi dan prinsipnya, mereka bisa saja cabut.
  4. Saya akan nyoblos nama yang menurut saya punya kans untuk menang. Walaupun saya tergoda untuk coba-coba gambling dengan nyoblos kandidat yang fresh, muda dan belum diracuni sistem politik kita yang acakadut ini, saya realis – kalau mereka tidak dapat kursi, vote saya “terbuang” percuma atau dialihkan oleh petinggi-petinggi partai untuk memasukkan jagoan mereka, yang hampir pasti adalah “loyalis partai” (see point #2 dan #3).
  5. Tentunya saya ingin kandidat yang bersih dari KKN, berpendidikan, punya visi yang jelas, komunikator yang handal, bisa dibanggakan di level nasional/internasional, tapi tetap hands-on dan merakyat. I know, I know … needle in a haystack, dan sangat susah cari tahunya :-) but that’s why I start researching now!

Kalau ada yang mau ngasi bocoran tentang sepak terjang Caleg u/ Dapil Luar Negeri (DKI Jakarta II / Jakarta Pusat dan Selatan), monggo komen di sini! :-)

Tentang Hasil Tes PISA Indonesia yang “Jeblok”

Saya memutuskan u/ blogging disini u/ menjawab artikel dari Esther Lima di blog Kompasiana yang mengatakan bahwa Indonesia meiliki “Sekolah Terbodoh Di Dunia vs Sekolah Juara Olimpiade Internasional”. Artikel lengkap ybs. bisa dibaca di sini, tapi komen saya nggak pernah bisa ter-upload.

Artikelnya secara eksplisit menyebut SMUK1, almamater saya. Jadi, sebagai alumni SMUK1 yg juga orang tua murid yang  sekolahnya diikutsertakan u/ PISA tes (mewakili Singapur), izinkan saya meletakkan “glorification” of SMUK1 dan hasil tes PISA dalam konteks yang benar:

Tentang SMUK1 – kurikulumnya tidak spesial. Yang spesial dr SMUK1 adalah mereka super selektif memilih anak yg bisa masuk ke situ. Rata2 ujian nasional di bawah 8, terutama untuk math english science? Jangan harap bisa masuk – berapapun uang yg anda punya. Jadi SMUK1 dipenuhi anak2 yang pada dasarnya sudah pintar, rajin, ambisius, berbakat dan biasanya punya nilai bagus di standardized test semacam PISA ini. Yg spesial di SMUK1 bukan kurikulumnya tapi bibit awalnya yg sudah unggul, sehingga SMUK1 punya “privilege” untuk bisa memberikan materi2 yang lebih challenging, seringkali dengan mengadopsi materi universitas terutama di subject2 Science, Math and Technology, u/ diberangus anak2 SMA.

Now tentang PISA. Peringkat PISA jelek bukan kiamat kalau kita lihat konteksnya. Pertama, negara peserta PISA cuma 60-an, yg semuanya adalah OECD members yang adalah negara2 maju dan emerging market. Gak heran Indonesia peringkatnya jelek kalau dibandingkan Singapura, USA, Norwegia dsb. Kalau kita peringkatnya di bawah Honduras, Uganda dsb baru saya heran …

Kedua, tes PISA bisa dimanipulasi dalam pelaksanaannya. Satu contoh. Anda lihat peringkat Shanghai yang sangat tinggi? Kenapa tidak seluruh China diikutsertakan? Karena Shanghai jauh lebih kosmopolitan dan berpendidikan tinggi daripada the rest of China. Kalau the rest of China diikutsertakan dalam tes PISA, saya rasa peringkatnya akan jauh dari Top 10.

Lalu, negara partisipan bisa saja memilih sekolah2 berprestasi untuk ikut serta tes PISA supaya peringkatnya terdongkrak, walaupun mestinya tes PISA mengikutkan representatif sekolah berprestasi, sekolah rata2 dan sekolah yang kurang berprestasi. At the end of the day, sampling-nya bisa dimanipulasi oleh negara partisipan dan tidak ada kontrol atas akurasi “representative sampling” ini. Misalnya: sekolah anak saya diikutkan tes PISA untuk Singapura, dan nilai rata2 PISA di sekolah anak saya lebih tinggi dari nilai Singapur, sehingga rangking Singapur terdongkrak karenanya. Important to note bahwa sekolah anak saya hampir tidak ada warga negara Singapur dan kurikulumnya bukan kurikulum Singapur. Menurut saya, tidak semestinya Singapur mengikutkan sekolah anak saya dan mengambil kredit untuk hasil yang keren yang bukanlah hasil kurikulum dari negaranya sendiri. :-)

Satu lagi contoh “manipulasi”. Tes PISA seharusnya diambil tanpa persiapan. Tetapi Stephen Martin dari The Daily Telegraph menulis bahwa beberapa peserta dari negara yang rangkingnya tinggi mengaku bahwa mereka melakukan persiapan supaya hasil tes PISA-nya lebih bagus.

Ketiga, there are no instant results. Tidak adil kalau kita hanya memaki2 sistem pendidikan Indonesia ketika nilai PISA 2012 kita jelek. Yang justru lebih penting adalah melihat data per sekolah, year-on-year improvement, dan data angket di belakang hasil tesnya. Misalnya:

  • tahukah anda bahwa rata2 peserta PISA dari Indonesia jumlah hari bolosnya lebih banyak dari anak2 di negara yang rangkingnya tinggi? Selain itu, makin banyak bolosnya, makin rendah nilai PISA-nya. So … bagaimana kita menciptakan environment di sekolah (dan di rumah) yang membuat anak tidak ingin / tidak bisa absen sering2?
  • tahukah anda bahwa walaupun nilai Reading, Math dan Science Indonesia jeblok, anak-anak Indonesia adalah student yang paling happy di sekolah? Sementara yang paling stres adalah anak2 Korea Selatan yang rangking PISA-nya cukup mentereng. Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini? Bagaimana kita improve prestasi tanpa membuat anak2 ini jadi stres seperti anak2 di negara2 Asia lain yang high achiever tapi kurikulumnya terlalu fokus di ujian2 standardisasi?
  • Selain itu, Depdiknas juga perlu melihat sekolah2 mana di Indonesia yang skor PISA-nya lebih tinggi dari rata-rata nasional. Apa yang bisa dicontoh dari sekolah itu untuk perbaikan kurikulum nasional? Depdiknas punya hasil tes PISA yang detil per sekolah dan bisa menjawab pertanyaan ini kalau mereka mau menganalisa datanya dengan seksama. Darimana saya tahu kalau data ini tersedia? Karena saya tahu hasil tes PISA Singapur overall dan hasil tes PISA khusus u/ sekolah anak saya. Kalau Singapur punya, tentunya Depdiknas punya.

Masalahnya, kalau melihat tren nilai PISA Indonesia dari tahun 2000 sampai sekarang yang selalu jongkok, saya ragu kalau data yg berharga dari PISA tes ini benar-benar digunakan u/ perbaikan kurikulum nasional …